Disiplin Positif

Hati-hati ‘Melabel’ Siswa

Pada awalnya, labelling tersebut bertujuan untuk menyemangati siswa yang terindikasi mengalami penurunan semangat belajar. Akan tetapi, langkah yang diterapkan malah membuat siswa tertekan sehingga bermasalah dalam proses belajarnya.

Meskipun dilakukan dengan tujuan menyemangati, apakah hal tersebut diperbolehkan dalam sistem pendidikan?  Beberapa hal yang sering dilakukan guru terhadap siswa yang berujung kepada tindakan judgement adalah sebagai berikut.

  • Siswa tidak mampu menjawab pertanyaan guru, seringkali diartikan dengan daya tangkap siswa tersebut terbilang lamban.
  • Siswa tidak bersedia maju ke depan kelas, seringkali diartikan sebagai siswa yang pemalu.
  • Siswa yang cenderung bergerak dalam proses belajarnya diartikan sebagai siswa yang nakal dan tidak bisa diam.
  • Siswa yang banyak bertanya diartikan sebagai siswa yang kurang kerjaan.

Labelling hingga menghakimi (judgement) siswa memiliki berdampak negatif terhadap perkembangan kejiwaan siswa itu sendiri.. Secara sederhana, judgement dapat diartikan sebagai tindak menghakimi siswa dengan konotasi negatif. Seperti halnya yang dikatakan oleh kebanyakan guru ketika menghadapi siswa yang sulit belajar, lalu muncullah statement atas siswa tersebut dengan melabelinya sebagai siswa pemalas.

Begitu juga halnya dengan perlakuan orang tua terhadap anak. Setiap siswa berhak mendapatkan perhatian dan kasih sayang dengan tidak menghakimi mereka. Setiap kesalahan dan kondisi emosi yang berubah-ubah merupakan bagian dari proses belajar mereka.

Ternyata, menghakimi siswa dengan konotasi negatif berdampak buruk terhadap perkembangan psikisnya. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Minder

Rasa minder akan timbul ketika siswa mendapati dirinya menjadi bahan perbandingan dengan teman yang lain. Kelanjutan akan rasa minder ini membuat siswa urung untuk melakukan perbaikan.

  • Kehilangan Rasa Keberhargaan atas Diri

Hujatan yang menghantam secara bertubi-tubi membuat siswa merasa dirinya tidak berharga di mana ini berawal dari rasa minder. Perasaan demikian akan tumbuh subur menjadi mindset. Lebih lagi bagi siswa yang memiliki sensitivitas perasaan yang tinggi.

  • Trust Issue

Trust issue merupakan fenomena kehilangan kepercayaan. Setelah siswa mendapatkan penghakiman berupa konotasi negatif, hal tersebut membuat mereka perlahan tidak percaya terhadap kemampuan diri. Jika ini berkembang secara terus menerus, siswa bahkan tidak percaya terhadap lingkungan di sekitarnya.

  • Krisis Identitas

Apabila siswa mendapat hujatan “pemalas” ketika tidak mengerjakan tugas, konotasi “autis” karena sibuk dengan diri sendiri, konotasi “bodoh” ketika melakukan kesalahan dalam berproses, sebenarnya hal ini akan melekat pada diri mereka. Para siswa yang mendapat perlakuan demikian akan sulit menemukan jati diri hingga merasa nyaman ketika menjadi bagian dari orang lain. Inilah yang membuat cita-cita mereka tertunda karena apa yang mereka lakukan tidak pernah dihargai.

  • Bipolar

Bipolar adalah dampak yang akan terlihat paling jelas ketika judgement terus menerus ditujukan kepada siswa. Seketika, siswa tersebut kehilangan jati diri yang membuatnya berusaha memenuhi segala prosesnya dengan segala cara.

Di depan para guru, mereka akan berusaha untuk bersikap sempurna dengan memenuhi setiap proses belajar. Ini berlaku kebalikan ketika mereka berada di luar kendali sang guru. Bisa saja mereka berlaku anarki di luar lingkungan sekolah setelah menuruti seluruh aturan pada jam sekolah.

Guru boleh saja memiliki banyak cara untuk menyemangati murid agar bisa menjaga semangat dalam belajar. Namun, penggunaan bahasa yang tepat harus selalu diperhatikan. Tidak menutup kemungkinan bahwa siswa merekam dengan baik perkataan gurunya hingga menjadi sebuah mindset yang nantinya akan mempengaruhi kehidupannya di kemudian hari.

Pun demikian, sudah saatnya  sebagai pendidik, kita berusaha sebanyak mungkin menangkap perilaku positif para siswa. Dalam diri mereka kita sematkan predikat positif bahwa setiap anak adalah ‘Bintang’. Jika ini terjadi, maka akan tumbuh optimisme untuk mencapai kesuksesan belajar.

KonselingPsikologi

Azmi Raudhatul Islah
Azmi Raudhatul Islah

Pendidik adalah profesi, menulis adalah hobi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Privacy Settings
We use cookies to enhance your experience while using our website. If you are using our Services via a browser you can restrict, block or remove cookies through your web browser settings. We also use content and scripts from third parties that may use tracking technologies. You can selectively provide your consent below to allow such third party embeds. For complete information about the cookies we use, data we collect and how we process them, please check our Privacy Policy
Youtube
Consent to display content from Youtube
Vimeo
Consent to display content from Vimeo
Google Maps
Consent to display content from Google
Spotify
Consent to display content from Spotify
Sound Cloud
Consent to display content from Sound