Reviews

Sokola Rimba : Perjalanan Guru Inspiratif

Digarap dengan apik oleh duet Mira Lesmana dan Riri Riza, film Sokola Rimba yang dibintangi oleh Prisia Nasution ini bisa dibilang cukup berhasil membuka mata masyarakat tentang suramnya dunia pendidikan di pelosok Indonesia.

Sokola Rimba merupakan sebuah film yang bercerita tentang perjuangan Saur Maurlina Manurung, yang kemudian dikenal sebagai Butet Manurung, untuk memberikan pendidikan kepada Suku Anak Dalam di Jambi. Diangkat dari buku berjudul sama, Sokola Rimba awalnya adalah catatan harian yang ditulis oleh Butet untuk mengisi waktunya selama tinggal dan mengajar di sana.

Butet yang pada masa kuliahnya aktif dalam kegiatan pecinta alam mengawali karier sebagai pemandu wisata di taman nasional. Namun ia selalu merasa ada yang kurang dalam hidupnya, hingga ia melihat sebuah lowongan di Koran : Dicari Seorang Fasilitator Pendidikan Alternatif Bagi Suku Asli Orang Rimba, Jambi.

Suku Anak Dalam, atau biasa juga disebut sebagai Orang Rimba, adalah suku yang hidup di Taman Nasional Dua Belas (TNDB) – Jambi. Mereka memegang teguh adat mereka dengan menutup diri terhadap dunia luar, hidup secara nomaden, serta menggantungkan hidupnya dengan berburu dan meramu.

Orang Rimba yang tak mengenal huruf ini pun menjadi sasaran empuk pembodohan. Banyak orang kota, yang mereka sebut sebagai orang terang, menyodorkan surat yang disebut sebagai piagam penghargaan dari kecamatan. Tumenggung, sebutan bagi ketua adat, pun membubuhkan cap jempolnya tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Di kemudian hari baru diketahui bahwa surat-surat tersebut ternyata berisi persetujuan pengeksploitasian tanah adat Orang Rimba, dengan bayaran yang jauh dari kata wajar : gula, kopi, rokok, dan berbagai barang yang nilainya sama sekali tidak sebanding. Tanah ini banyak dibabat untuk keperluan perkebunan kelapa sawit. Mereka pun terpaksa terusir, masuk semakin jauh ke dalam hutan.

—–

Film diawali ketika Butet yang telah tiga tahun mengajar Anak Rimba terserang malaria. Ia pingsan di tepian sungai, jauh dalam belantara. Bantuan datang dari seorang anak yang tidak ia kenal. Ia hanya tahu bahwa anak tersebut datang dari hilir Sungai Makekal, yang berarti ia telah menempuh perjalanan selama tujuh jam sampai ke tempat Butet mengajar.

Dalam usahanya untuk mencari tahu, Butet pun memperluas area mengajarnya hingga ke hilir. Bersama dua muridnya, Beindah dan Nengkabau, ia menempuh perjalanan selama beberapa hari hingga bisa bertemu dengan anak misterius tersebut, yang ternyata bernama Nyungsang Bungo.

Baru beberapa hari mengajar di hilir, rombongan Bungo mulai menunjukkan penolakan mereka. Bagi mereka, pendidikan adalah hal yang tabu dan bertentangan dengan adat istiadat. Sokolah, sebutan sekolah bagi Orang Rimba, dipercaya akan mendatangkan musibah, kutukan, bahkan kematian. Butet pun terpaksa meninggalkan tempat tersebut.

Bungo yang masih remaja tidak bisa menerima begitu saja pengusiran gurunya. Muncul satu dialog emosional, “Ke mano Bu Guru Butet pegi? Akeh ndok bolajor pado Bu Guru!”. Ia pun kemudian meninggalkan rombongannya, diam-diam menyusuri hutan demi ikut sokola.

Butet sangat menyadari bahwa Bungo tidak bisa memilih antara kecintaannya terhadap sokola yang mulai tumbuh, dan kesadaran dirinya yang terlahir untuk mencintai kaum, adat, serta tanah pusakanya. Tiap kali melihat Bungo mengamati sokola dari kejauhan, Butet hanya memanggil lirih, “Bungo, ayo bolajor”.

Tak lama Bungo dijemput paksa oleh rombongannya. Tumenggung meninggal, dan mereka percaya bahwa ini adalah kutukan karena kedatangan Butet dan aktivitas yang ia lakukan.

Dalam kepercayaan Orang Rimba, mereka harus meninggalkan tempat tinggal mereka selama ini apabila ada salah satu kerabat yang meninggal karena tempat tersebut diyakini tidak baik untuk ditinggali, dan akan membawa petaka bagi siapa saja yang masih berdiam di sana. Bungo dan rombongan pun meninggalkan tempat tersebut.

Di akhir film, Butet dan rekan-rekannya melihat sesuatu yang mengejutkan. Bungo berdiri mewakili rombongannya menghadapi orang terang yang kembali datang. Bungo bisa membaca dan dan mengerti akan isi surat perjanjian yang ditawarkan. Ia bahkan mampu menolak poin-poin yang dianggap tidak sesuai dengan aturan adat mereka.

—–

Durasi film ini tentu saja tidak mampu menggambarkan 348 halaman buku Sokola Rimba secara keseluruhan. Namun setidaknya, Riri dan Mira berhasil membawa penonton untuk melihat kehidupan Orang Rimba dan perjuangan Butet bersama mereka.

Riri dan Mira dalam beberapa wawancaranya menjelaskan bahwa mereka banyak belajar dari Orang Rimba sepanjang proses pembuatan film. Bagaimana tidak, perjalanan yang harus ditempuh untuk mencapai hunian mereka sendiri memakan waktu setidaknya tujuh jam dengan berjalan kaki. Maraknya pembalakan hutan dan juga munculnya perkebunan-perkebunan kelapa sawit semakin mempersempit ruang gerak mereka. Mereka yang hidup dengan berburu dan mengandalkan hasil hutan seperti madu dan daun-daunan, harus berjuang lebih keras untuk mendapatkannya.

Meski masih cenderung menutup diri, kehadiran Butet berhasil membawa perubahan bagi mereka. Murid-murid pertama Butet kemudian menjadi kader-kader Sokola Rimba yang meneruskan ilmunya bagi Anak Rimba lainnya. Bahkan belakangan, ada Anak Rimba yang berhasil menyelesaikan kuliahnya di Jambi sebagai guru. Ia kembali untuk mengajar di TNDB.

Melihat film ini, saya tersadar betapa suramnya dunia pendidikan kita di beberapa tempat. Ketika wajib belajar menjadi sesuatu yang sering dikumandangkan di Pulau Jawa, di sudut sana masih ada yang menolak pendidikan karena diyakini akan mendatangkan keburukan.

Beruntunglah Anak Rimba karena Butet tidak menyerah begitu saja. Dengan kreativitasnya, ia bahkan mampu menyikapi segala hambatan yang ada dengan sangat baik.

Ketika Anak Rimba tidak mengenal kursi dan meja, Butet mengajar di segala tempat. Di sungai, di hutan, di pohon, dimanapun. Ketika mereka terpaksa berpindah-pindah tempat karena kondisi dan keyakinan, Butet terus mengikuti. Pun ketika ia terserang penyakit malaria, ia masih berusaha menjalankan tugasnya.

Ia menyesuaikan metode pengajarannya dengan hal-hal yang biasa dihadapi Anak Rimba setiap harinya. Selain membaca, menulis, dan berhitung, ia juga membawa informasi dan pengetahuan tentang dunia luar, mengajarkan beberapa keterampilan, serta mengajarkan bagaimana berkomunikasi dan berorganisasi. Ia berharap bahwa ke depannya Orang Rimba akan siap ketika harus berhadapan dengan dunia luar, dan tentu saja agar mereka tidak lagi mudah dieksploitasi.

Sokola Rimba tidak berhenti di TNDB saja. Di bawah bendera Yayasan Sokola, Butet mengembangkan pendidikan alternatif ini hingga ke Flores, Halmahera, Bulukumba (Sulawesi), Pulau Besar dan Gunung Egon, Aceh, Yogyakarta, Makasar, Klaten, dan Bantul. Perjuangan dan kontribusi Butet dalam dunia pendidikan telah diapresiasi oleh banyak pihak, terutama justru dari luar negeri. Pada tahun 2004, majalah TIME Asia menyebutnya sebagai Heroes of Asia. Selain itu ia juga memperoleh penghargaan Young Global Reader dari Forum Ekonomi Dunia, Social Entrepeneur of The Year dari Ernst and Young, serta Ramon Magsaysay Award yang seringkali disebut-sebut sebagai Nobelnya Asia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Privacy Settings
We use cookies to enhance your experience while using our website. If you are using our Services via a browser you can restrict, block or remove cookies through your web browser settings. We also use content and scripts from third parties that may use tracking technologies. You can selectively provide your consent below to allow such third party embeds. For complete information about the cookies we use, data we collect and how we process them, please check our Privacy Policy
Youtube
Consent to display content from Youtube
Vimeo
Consent to display content from Vimeo
Google Maps
Consent to display content from Google
Spotify
Consent to display content from Spotify
Sound Cloud
Consent to display content from Sound