fbpx
Kurikulum

Kurikulum Masa Depan Berbasis Pemecahan Masalah

Apakah kita menyadari bahwa bertanya merupakan dorongan alami anak-anak?.  Penelitian di Inggris menyebutkan bahwa anak perempuan berusia 4 tahun menanyakan rata-rata 392 pertanyaan per hari.

Mengapa anak-anak suka sekali bertanya?.  Karena begitulah cara mereka memuaskan rasa ingin tahu. Pertanyaan seperti “mengapa langit berwarna biru?”.  Atau yang paling merepotkan orang tua adalah “darimana bayi lahir?”. Semuanya adalah pertanyaan tulus berlandaskan keingintahuan.

Pertanyaan seperti yang ditanyakan anak-anak sama sifatnya dengan pertanyaan yang diajukan Isaac Newton saat bertanya “Mengapa apel jatuh ke permukaan tanah?”. Pertanyaan inilah yang akhirnya membuat seluruh dunia tahu adanya gravitasi bumi.  Bayangkan kalau Newton tidak pernah mempertanyakan apel yang jatuh dari pohon, semua inovasi yang memanfaatkan gaya gravitasi tidak akan pernah terwujud. 

Pertanyaan adalah kunci untuk membuka pintu-pintu selanjutnya pada ilmu pengetahuan.  Melalui pertanyaanlah aksi nyata akan terjadi. Ilmu pengetahuan dan aksi seharusnya menjadi tujuan utama dari setiap pembelajaran yang kita lakukan. Namun yang menjadi pertanyaan adalah :

Apakah kurikulum yang kita gunakan sudah memberi ruang bagi siswa untuk bertanya sebanyak-banyaknya?.

Apakah kurikulum yang kita gunakan sudah membuka pintu bagi ilmu pengetahuan baru dan mendorong aksi?.

Sebagai pendidik pada Sekolah Dasar, cara terbaik mendorong siswa bertanya, salah satunya dengan  dengan mengasah kemampuan pendidik untuk bertanya. Sebagai orang dewasa, kita suka menganggap remeh bahwa bertanya merupakan hal mudah.  Namun kalau kita lihat fakta di lapangan, berapa banyak pendidik yang bisa mengajukan pertanyaan berkualitas untuk merangsang proses berpikir dan investigasi para siswa.

Melatih siswa mengajukan pertanyaan tidak sesedrhana menanyakan “sampai di sini, apakah ada yang mau bertanya?” di akhir pelajaran.  Tapi, rencana pembelajaran bisa menyertakan video, gambar, atau cerita yang akan digunakan sebagai objek pertanyaan siswa.

Siswa bisa menggunakan template pertanyaan yang diberikan guru seperti “Apa hubungan antara ………………… dengan…………………..?” , “Bagaimana pengaruh……………. pada…………..,” atau “Apa yang menyebabkan terjadinya…………………..?” Lalu, siswa mengisi titik-titik dengan variable-variabel yang mereka dapatkan dari media cerita, video, atau gambar.

Mengajukan pertanyaan yang tepat dapat mendorong aksi nyata pemecahan masalah. Kamera Polaroid tercipta karena anak dari Edwin Land, penemu kamera Polaroid, bertanya kepada ayahnya mengapa ia harus menunggu untuk bisa melihat foto liburan mereka. Pertanyaan tersebut memberikannya ide untuk mengembangkan sebuah inovasi kamera instan seperti kamera Polaroid yang kita kenal sekarang.

Untuk melakukan aksi alias menjadi problem solver, siswa juga harus belajar mengenal alur proses desain. Tahapan Proses Desain yang perlu dilakukan siswa meliputi : Identifikasi masalah, brainstorming, mendesain pemecahan masalah, membuat pemecahan masalah, tes dan evaluasi, mendesain ulang, membagikan solusi, kemudian refleksi.

Masalah diidentifikasi sebagai jarak antara ekspektasi dan kenyataan yang ada.  Pemikiran desain yang baik seharusnya berangkat dari empati terhadap permasalahan di sekitar.

Rancangan kurikulum dengan tujuan akhir menciptakan seorang problem solver idealnya memberi ruang bagi guru dan siswa untuk mengasah kepekaan melihat masalah dimulai dari lingkup kecil seperti kelas, lingkungan sekolah, lingkungan rumah, sampai ke ruang lingkup besar seperti kota tempat siswa tinggal.

Dengan akses informasi yang sudah tak terbatas, siswa Sekolah Dasar dapat dengan mudah membandingkan keadaaan di sekitarnya dengan kondisi ideal dan akhirnya menimbulkan pertanyaan “Apa yang bisa saya lakukan untuk memperkecil jarak antara ekspektasi dan kenyataan”.

Dalam kurikulum berbasis pemecahan masalah batas-batas antara disiplin ilmu juga terjembatani. Siswa didorong untuk membangun desain pemecahan dengan mengintegrasikan beberapa displin ilmu. Contohnya, matematika dan sains pesawat sederhana dapat dipakai untuk mengukur dan menggerakkan alat pembersih sepatu sebagai pemecahan masalah ruang kelas yang kotor di musim penghujan.

Seluruh proses tidak statis melainkan dinamis. Mengikuti alur pemikiran desain, siswa akan belajar berhadapan dengan kegagalan pada tahap tes dan evaluasi dari proses desain. Pada tahap ini, teori-teori yang mereka pelajari menjadi bentuk nyata bukan hanya fakta. Adakalanya proses pengukuran yang mereka pelajari di pelajaran matematika tidak bekerja dan mereka lagi-lagi dituntut untuk menjadi pemecah masalah dengan berbekal keterampilan berpikir.

Sebagai kesimpulan, kurikulum berbasis pemecahan masalah adalah kurikulum yang lentur dengan ruang di sana sini untuk memungkinkan eksplorasi. Rencana pembelajaran harian melibatkan pertanyaan-pertanyaan yang harus diajukan guru untuk memancing minat investigasi lebih jauh. Di ruang kelas tidak ada pertanyaan yang terlalu remeh untuk  dicari bersama jawabannya . Di sinilah cara alami seorang anak manusia belajar difasilitasi.

Mendesain pemecahan masalah juga merupakan proses pembelajaran yang merangsang banyak keterampilan siswa. Beberapa diantaranya adalah keterampilan menganalisis dan memecahkan masalah. Kurikulum berbasis pemecahan masalah memungkinkan siswa meleburkan disiplin-disiplin ilmu menjadi sebuah solusi. Sebuah kondisi yang lebih dekat dengan dunia nyata jika dibandingkan dengan kurikulum konvensional yang mengotak-ngotakkan materi pelajaran.


Faisal N.H
Faisal N.H

Faisal adalah redaktur blog Millennia 21st Century Academy. Kegemarannya akan teknologi membuatnya selalu update dengan perkembangan ed-tech terkini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Privacy Settings
We use cookies to enhance your experience while using our website. If you are using our Services via a browser you can restrict, block or remove cookies through your web browser settings. We also use content and scripts from third parties that may use tracking technologies. You can selectively provide your consent below to allow such third party embeds. For complete information about the cookies we use, data we collect and how we process them, please check our Privacy Policy
Youtube
Consent to display content from Youtube
Vimeo
Consent to display content from Vimeo
Google Maps
Consent to display content from Google
Spotify
Consent to display content from Spotify
Sound Cloud
Consent to display content from Sound