fbpx
Kurikulum

Masihkah Sekolah Diperlukan?

Penunjukan Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dapat dilihat sebagai babak baru dalam dunia pendidikan nasional. Presiden Jokowi seakan ingin menunjukkan komitmennya terhadap visi “SDM Unggul, Indonesia Maju” di masa depan.

Pidato Menteri Pendidikan dalam hari guru yang lalu menyiratkan banyak yang akan berubah dalam dunia pendidikan Indonesia. Latar belakang beliau yang tidak memiliki pengalaman teknis di bidang pendidikan menjadikan ini sebagai diskusi yang menarik. Akankah sistem pendidikan kita mengadopsi era 4.0? Seberapa relevankah model sekolah saat ini? Apakah di masa depan, sekolah masih diperlukan?

Tantangan Kebutuhan SDM Masa Depan

Pembicaraan tentang SDM masa depan saat ini, hampir selalu dikaitkan dengan teknologi. Era 4.0 memang digerakkan oleh kemajuan teknologi. Sebaliknya, kemajuan teknologi meningkatkan pula interkoneksi dan otomatisasi. Oleh karena itu, penguasaan teknologi menjadi satu syarat penting SDM unggul di masa depan.

Namun, perlu disadari bahwa teknologi hanyalah sarana. Ia hanyalah alat. Penentu berguna atau tidaknya alat tersebut adalah orang yang menggunakan teknologi tersebut. The man behind the gun. Dan alat tersebut hanya akan bermanfaat secara optimal, jika digunakan berdasarkan pemikiran yang kritis.

Critical thinking bukan hanya berbicara soal ketidaksetujuan terhadap sesuatu. Ia meliputi kemampuan mengamati, membaca data, melakukan analisa, dan menentukan sebab-akibat.. Seluruh proses berpikir kritis tersebut akan menjadi optimal jika didukung dengan penguasaan teknologi.

Kemampuan berpikir kritis akan membawa kepada identifikasi masalah yang tepat. Untuk masuk ke dalam desain penyelesaian yang praktis dan tepat guna, dibutuhkan kemampuan berpikir yang kreatif dan inovatif (creative and innovative thingking).

Kedua kemampuan tersebut, berpikir kritis dan berpikir kreatif, bersifat saling melengkapi. Keduanya menjadi kemampuan dasar yang harus  dikuasai oleh SDM unggul di masa depan.

Sebuah desain atau rencana penyelesaian suatu masalah tidak akan dapat dikerjakan sendirian. Apalagi jika hal ini merupakan masalah publik. Dibutuhkan kerjasama berbagai pihak dalam menyelesaiakan suatu proyek  atau masalah. Kemampuan dalam berkolaborasi menjadi poin penting selanjutnya.

Terakhir, semua kemampuan tersebut akan menjadi kontra-produktif, bahkan bisa destruktif, jika tidak diarahkan oleh nilai-nilai yang baik. Nilai ini bahkan bisa disebut asas, dasar, atau  landasan bagi semua kemampuan yang lain.

Secara garis besar, SDM di masa depan akan ditantang untuk memiliki:

  1. Penguasaan teknologi
  2. Kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan inovatif
  3. Kemampuan berkolaborasi atau bekerjasama
  4. Karakter dan nilai-nilai yang baik.

Visi Proses Pembelajaran Masa Depan

Visi SDM unggul di masa depan perlu dijabarkan dalam misi proses pembelajaran yang tepat. Adalahh tidak mungkin menuju ke suatu tempat, jika jalan yang diambil justru berbelok atau bahkan berlawanan.

Gambaran proses pembelajaran yang ideal sebenarnya telah disampaikan oleh Menteri Pendidikan Nadiem Makarim dalam pidatonya. Walaupun hanya sebagian kecil saja. Sedikitnya ada 5 hal yang menjadi concern beliau dilihat dari kalimatnya.[1]

1. Ajak kelas berdiskusi, bukan hanya mendengar

Dalam kelas masa depan, pelajar akan aktif menyampaikan ide dan gagasan, mempertanyakan, memberikan jawaban, menyanggah, dan mengambil kesimpulan.

2. Berikan kesempatan kepada murid untuk mengajar di kelas

Kelas masa depan memberikan kesempatan kepada pelajar untuk mengomunikasikan pemahaman, ide, dan gagasannya. Diskusi, praktik, dan mengajarkan merupakan ciri pembelajaran aktif dengan tingkat retensi hasil  belajar mencapai 90%.[2]

3.Cetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas

Kelas masa depan tidak dibatasi oleh sekat ruangan. Pembelajaran tak boleh menjadi sesuatu yang teoritis dan mengawang-awang. Ia harus berdampak dan memiliki manfaat praktis untuk menyelesaikan masalah di lapangan.

4.Temukan suatu bakat dalam diri murid yang kurang percaya diri

Kelas masa depan mendorong pelajar untuk berani mengambil langkah yang bertangungjawab atas masa depannya. Pelajar dapat memilih bidang yang ia minati, dan mengembangkan dirinya di sana. Guru akan memberikan dorongan, semangat, dan bantuan untuk pelajar tersebut berkembang.

5.Tawarkan bantuan kepada guru yang sedang mengalami kesulitan

Upgrading guru masa depan akan terus berjalan, baik secara mandiri atau dengan bantuan. Saling tukar ide dan gagasan dapat dilakukan walaupun terpisah jarak dan waktu. Penerapan Internet of Things (IoT) dalam dunia pendidikan akan mempermudah hal tersebut terwujud.

Sekolah, Antara Realita dan Harapan

Kata kunci dalam visi  pembelajaran masa depan adalah student centered learning dan Internet of Things. Sedangkan garda terdepan yang akan mewujudkan visi tersebut adalah sekolah, sebagai lembagai pendidikan formal. Sekolah masa depan diharapkan telah menerapkan 2 hal tersebut dalam proses pembelajarannya.

Sumber belajar tak lagi hanya berasal dari guru dan sekolah. Tugas guru menjadi lebih dekat dan akrab. Relasi guru-murid tak lagi berbentuk vertikal, tapi menjadi horizontal. Guru akan menjadi partner, fasilitator, dan motivator yang mendorong pelajar menyelesaikan proyeknya.

Internet menjadi sumber belajar yang tak terbatas. Teknologi ini juga menjadi basis utama dalam perencanaan, proses pembelajaran, hingga evaluasi. Administrasi sekolah berjalan secara otomatis dan terkoneksi langsung dengan pihak-pihak terkait.

Orang tua dapat mengecek secara realtime keberadaan dan aktivitas anaknya. Guru dapat mengecek keadaan pelajar dan progress serta pencapaian proyek. Pelajar dapat melakukan riset dan memberikan umpan balik kepada sesama pelajar, guru, sekolah, hingga institusi publik.

Permasalahan utama bidang pendidikan di Indonesia adalah tentang pemerataan. Sekolah-sekolah yang terletak di  kota besar dan memiliki sumber daya yang baik bisa saja menerapkan sistem tersebut. Namun, bagaimana dengan sekolah yang terpencil? Bagaimana dengan sekolah yang mayoritas muridnya berasal dari keluarga miskin?

Solusi Sistem Pendidikan Masa Depan

Solusi dari masalah tersebut kembali ke kunci awal, Internet of Things. Sekolah tak lagi boleh membatasi diri dalam sekat-sekat ruangan. Teknologi harus dimanfaatkan dalam semua tahap pembelajaran maupun administrasi sekolah.

Dengan demikian, pemerintah tidak perlu membangun gedung sekolah baru. Pemerintah hanya perlu membangun sarana konektivitas dan sistem sekolahnya. Data-data disimpan dalam cloud storage dan dapat diakses secara realtime dari mana saja.

Guru dan pelajar tak lagi harus bertatap muka setiap hari. Proyek dapat disusun setiap bulan dengan waktu konsultasi tatap muka setiap minggu. Monitoring dapat dilakukan setiap dibutuhkan melalui jaringan. Absensi bukan lagi penentu kelulusan, melainkan keberhasilan proyek yang dilakukan.

Arah proyek pendidikan dasar disusun agar terkait dengan diri dan lingkungan. Sedangkan pada pendidikan menengah bawah ditekankan pada lingkungan sosial. Proyek di sekolah menengah atas seharusnya telah mulai menyelesaikan masalah-masalah nyata dalam keseharian.

Setiap proyek harus dilakukan dalam kelompok dan sebisa mungkin melibatkan unsur lain di luar sekolah. Untuk mengasah nilai dan karakter pelajar, secara berkala dapat diberikan proyek bakti sosial.

Di luar waktu tersebut, pelajar dapat mengembangkan dirinya dalam bidang yang ia sukai. Sekolah juga dapat membuka modul-modul khusus yang bebas diambil sesuai kebutuhan. Modul juga dapat dibatasi atau diberikan prasyarat tertentu, tergantung kondisi pelajar.

Solusi sistem pendidikan masa depan tampak radikal dan membutuhkan banyak perubahan. Pertanyaannya adalah, maukah kita?


[1] Pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada Upacara Bendera Peringatan Hari Guru Nasional tahun 2019. Dapat diunduh di alamat http://kemdikbud.go.id/main/files/download/e1d9937e0378234

[2] Nurdinah Hanifah, J. Julia, Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Dasar: Membedah Anatomi Kurikulum 2013 untuk Membangun Masa Depan Pendidikan yang Lebih Baik, (Sumedang: UPI Sumedang Press, 2014), hlm. 136.

masa depansekolah

Sigid Setyo
Sigid Setyo

Pendidik di sebuah Pondok Pesantren Modern di Jawa Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Privacy Settings
We use cookies to enhance your experience while using our website. If you are using our Services via a browser you can restrict, block or remove cookies through your web browser settings. We also use content and scripts from third parties that may use tracking technologies. You can selectively provide your consent below to allow such third party embeds. For complete information about the cookies we use, data we collect and how we process them, please check our Privacy Policy
Youtube
Consent to display content from Youtube
Vimeo
Consent to display content from Vimeo
Google Maps
Consent to display content from Google
Spotify
Consent to display content from Spotify
Sound Cloud
Consent to display content from Sound