Millennia 21st Century Academy https://millennia.co.id Mon, 23 Mar 2020 02:43:20 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.3.7 School Leader di Masa Krisis https://millennia.co.id/2020/03/23/school-leader-di-masa-krisis/ https://millennia.co.id/2020/03/23/school-leader-di-masa-krisis/#respond Mon, 23 Mar 2020 02:35:11 +0000 https://millennia.co.id/?p=5070 Read More]]> Di masa krisis Covid-19 seperti sekarang ini, adalah masa yang sangat tepat menguji kapasitas seorang leader di sekolah. Mereka yang tidak siap dan tangkas dalam menghadapi setiap perubahan, akan kewalahan dengan apa yang harus dikerjakan. Sebaliknya, akan ada figur-figur di sekolah anda yang muncul karena adaptabilitasnya, dengan mengambil langkah-langkah yang tepat bagi sekolah.

Bagaimana kita bisa mengambil langkah terbaik di tengah wabah Covid-19 sekarang ini? Ada beberapa hal yang harus anda perhatikan.

Jaga kesehatan diri anda dan keluarga anda

Ini sangat penting. Anda tidak bisa berfikir jernih jika anda sedang sakit. Meskipun tidak terjangkit Covid-19, sedikit sakit saja di masa sekarang, berpeluang mengganggu anda secara mental. Ikuti saran-saran yang sudah banyak dibagikan, terutama terkait social distancing atau menjaga jarak aman.

Secara aktif berbagi informasi yang terverifikasi kebenaranny
dan berdampak positif

Beragam hoax yang beredar sangat meresahkan dan seharusnya sangat bisa dihindari. Kita sebagai pendidik memiliki kemampuan untuk memahami kebenaran setiap informasi dan membagikan informasi yang baik bagi orang-orang di sekitar, termasuk ke rekan anda di sekolah. Salah satu yang penting untuk anda sampaikan adalah tetap berpikir positif dan menghindari panic buying dengan membeli stok barang dalam jumlah besar. Panic buying berlebihan berakibat pada kelangkaan barang yang pada akhirnya membuat situasi sosial menjadi tidak aman, dan tentunya akan berdampak positif bagi kita secara individu dan juga sekolah itu sendiri. Mari sebarkan pesan positif untuk menghindari panic buying.

Adakan online meeting setiap hari, pastikan rekan anda dalam keadaan baik

Keberlangsungan kegiatan sekolah tidak akan berjalan dengan baik jika rekan anda terkendala di situasi sekarang ini. Melakukan meeting setiap hari memastikan mereka dapat bekerja dengan baik akan memberi keuntungan bagi kedua belah pihak. Bagi sekolah, memastikan stafnya tetap bisa bekerja. Bagi individu, kepedulian kita akan sangat berpengaruh bagi moral rekan-rekan kita.

Pastikan proses belajar siswa dapat terus berlangsung

Apapun cara yang anda tetapkan, teknologi apa yang anda gunakan, pastikan bahwa tujuannya adalah membantu siswa di rumah untuk tetap bisa belajar. Di masa krisis seperti sekarang, anda mungkin mulai menyadari pentingnya penguasaan teknologi bagi guru, lalu menghabiskan waktu untuk mencari teknologi yang tepat untuk diguanakan sekarang. Anda bisa meminimalisirnya dengan memastikan bahwa tujuan anda adalah agar proses pembelajaran terus berlangsung, yang artinya mungkin, anda tidak perlu terlalu repot memikirkannya. Apa yang sudah ada dan bisa digunakan, ditambah masukan rekan anda, pasti sudah cukup. Usaha terbesar harus kita curahkan untuk memfasilitasi proses pembelajaran para peserta didik kita sebaik mungkin sejauh yang bisa kita lakukan.

Libatkan orang tua

Karena anak-anak berada di rumah, yang bisa mengawasi mereka secara langsung adalah orang tua. Proses pembelajaran jarak jauh hanya akan berhasil jika orang tua terlibat. Oleh sebat itu, anda juga perlu mengedukasi para orang tua. Misal melalui grup WA, anda menyampaikan apa saja yang akan dipelajari anak di rumah. Hal yang penting diperhatikan, tugas utamanya tetap ada pada guru, jadi jangan sampai membuat orang tua terbebani dengan proses belajar. Tujuan kita melibatkan orang tua adalah agar mereka tahu apa yang dilakukan anaknya, dan dengan itu dapat membantu anda dalam memfasilitasi pembelajaran para peserta didik.

Mari bersama-sama melewati masa-masa krisis ini.

]]>
https://millennia.co.id/2020/03/23/school-leader-di-masa-krisis/feed/ 0
Mencapai HOTS Melalui Esential Question https://millennia.co.id/2020/03/04/mencapai-hots-melalui-esential-question/ https://millennia.co.id/2020/03/04/mencapai-hots-melalui-esential-question/#respond Wed, 04 Mar 2020 07:59:45 +0000 https://millennia.co.id/?p=5062 Read More]]> Apa itu HOTS?

Berbicara tentang HOTS, tidak bisa dilepaskan dari Low Order Thinking Skills (LOTS). Keduanya berdasarkan pada beragam taksonomi pembelajaran, terutama Taksonomi Bloom. Saya yain bapak dan ibu sudah hapal betul dengan Taksonomi Bloom.

Bagi yang kurang familiar, Taksonomi Bloom memiliki enam level pembelajaran yang tujuannya untuk menghasilkan proses critical thinking pada siswa. Tiga level pertama, knowledge, comprehension, dan application (yang kemudian direvisi menjadi remembering, understanding, dan applying) berada pada tingkatan LOTS yang berpusat pada kegiatan menghapal konten.

Tiga level berikutnya adalah analysis, synthesis, dan evaluation (yang kemudian direvisi menjadi analyzing, revising, dan creating). Tiga level teratas ini ada berada tingkatan HOTS yang berfokus pada pemahaman konten dan bagaimana menerapkan pengetahuan yang sudah di dapatkan.

Apa itu Essential Question?

EQ yang dikembangkan oleh Grant Wiggins, merujuk kepada pertanyangan yang, ya, esensial. Tapi apa maksud dari esensial itu sendiri?

Menurut Wiggins, esesnsial disini bisa memiliki tiga arti. Arti yang pertama adalah penting tak lekang oleh waktu. Dalam arti ini, essential question adalah pertanyaan yan muncul secara alami dalam pemikiran seseorang. Contohnya adalah pertanyaan-pertanyaan seperti “apa itu keadilan? Apakah ilmu pengetahuan bisa selaras dengan agama? Apakah seni itu penting?” Pasti anda pernah mengalami tiba-tiba terbesit pertanyaan seperti ini.

Arti yang kedua adalah mendasar atau fundamental. Essential question dalam arti ini adalah pertanyaan yang menunjukkan inti dari sebuah permasalahan. Biasanya berupa pertanyaan yang menanyakan ide besar dari sebuah konsep pengetahuan. Misalnya, “Apakah perubahan iklim sesuatu yang biasa atau luar biasa?” Ini adalah pertanyaan utama dari debat perubahan iklim dan pemanasan global. Beberapa berpendapat perubahan iklim adalah sesuatu yang biasa, dan sudah beberapa kali terjadi dalam sejarah evolusi iklim di bumi, beberapa melihat bahwa peran manusia sangat signifikan hingga membuat perubahan iklim yang terjadi tidak sepenuhnya alami.

Terakhir, arti esensial adalah penting bagi pemahaman seseorang, dalam hal ini adalah siswa dalam pembelajaran. Di konteks ini, pertanyaan dikatakan esensial jika mampu membantu siswa dalam memahami konsep yang penting namun terlihat abstrak, hal-hal yang para ahli tahu itu penting tapi belum terlihat penting bagi siswa. Seperti, “Bagaimana cahaya bisa disebut sebagai gelombang? Bagaimana seorang penulis bisa membuat pembaca hanyut dalam cerita?” Dengan mengeksplor sebuah pengetahuan dengan pertanyaan seperti ini, siswa dapat terbantu dalam mengkoneksikan beragam pengetahuan yang awalnya terkesan abstrak menjadi satu pemahaman yang penting.

Kaitan HOTS dengan Essential Question

Saya masih sering bertemu dengan banyak guru yang melihat HOTS sebagai jenis pertanyaan atau soal ujian saja. Sebagaimana arti dari HOTS, sebuah keterampilan. Siswa membutuhkan alat untu mencapainya. Salah satu alat yang bisa dipakai adalah essential question. Bisa dikatakan, setiap pertanyaan yang bersifat HOTS atau dalam taksonomi bloom berada di tiga level teratas, merupakan sebuah pertanyaan yang esensial. 

Satu hal yang perlu menjadi perhatian adalah, kita sering berpatokan bahwa pertanyaa yang HOTS adalah yang menggunakan mengapa dan bagaimana. Wiggins mengingatkan hal ini tidak selalu tepat, bahkan banyak pertanyaan yang menggunakan apa atau apakah yang merupakan EQ. Misalnya, “apa arti “adil” dalam sebuah sistem ekonomi?” Meskipun menggunakan apa, pertanyaan ini sama sekali bukan pertanyaan yang bersifat mengingat konten pembelajaran. Pertanyaan seperti ini lebih bersifat mengajak siswa untuk diam sejenak dan berpikir, lalu berdiskusi. Setiap jawaban bisa dikembangkan oleh jawaban lainnya, dan inilah implikasi dari sebuah EQ.

Selain itu penting juga untuk memahami bahwa EQ adalah alat seperti yang sudah saya jelaskan di awal. Alat ini membutuhkan alat lain yaitu kurikulum dan proses pembelajaran. Jika kita menggunakan EQ namun HOTS tidak dipelajari dalam proses pembelajaran, maka pembelajaran yang esensial yang diinginkan dari EQ juga tidak akan terjadi. Maka dari itu penting bagi kita untuk tidak hanya berfokus kepada HOTS atau juga EQ, namun memperhatikan sistem pendidikan di sekolah kita secara utuh.

]]>
https://millennia.co.id/2020/03/04/mencapai-hots-melalui-esential-question/feed/ 0
Memahami Computational Thinking https://millennia.co.id/2020/02/25/memahami-computational-thinking/ https://millennia.co.id/2020/02/25/memahami-computational-thinking/#respond Tue, 25 Feb 2020 09:35:56 +0000 https://millennia.co.id/?p=5046 Read More]]> Mendikbud Nadiem Makarim berencana mengusung computational thinking dan compassion dalam kurikulum. Apa sebenarnya computational thinking dan compassion itu? Mengingat dua konsep ini masing-masing memiliki area pembahasan tersendiri dan cukup banyak, artikel pertama ini akan membahas tentang computational thinking.

Apa itu computational thinking?

Konsep computational thinking merujuk kepada sekumpulan metode berpikir untuk memahami sebuah permasalahan yang kompleks untuk kemudian menyusun kemungkinan solusi yang bisa digunakan, lalu mempresentasikannya sehingga komputer, atau manusia, atau keduanya, dapat memahaminya.

Lebih lanjut lagi, BBC menambahkan empat teknik dalam computational thinking.

  • Decomposition : membongkar permasalahan kompleks menjadi bagian yang lebih kecil.
  • Pattern recognition : mencari kesamaan di antara dan di dalam masalah-masalah.
  • Abstraction : fokus kepada informasi yang penting dan relevan saja, informasi yang tidak relevan diabaikan.
  • Algorithms : mengembangkan langkah-langkah penyelesaian masalah, atau aturan-aturan yang harus dipatuhi untuk menyelesaikan masalah.

Ke empat teknik di atas adalah sebuah satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan sama pentingnya. Seperti halnya sebuah meja dengan empat kaki, semua kaki meja sama pentingnya.

Thinking Computationally

Berpikir secara komputasional tidak sama dengan programming dan juga tidak sama dengan berpikir seperti sebuah komputer, karena komputer sendiri tidak bisa berpikir. Contoh sederhana adalah ketika anda ingin pergi ke rumah teman yang belum pernah anda kunjungi. Anda kemudian mencari tau rute untuk menuju rumah teman anda. Dalam proses itu, anda akan menemukan beberapa rute seperti, rute terpendek, rute tercepat, dan rute di mana anda bisa mampir ke toko kue untuk memberi hadiah teman anda. Setelah menentukan rute yang akan diambil, kemudian anda mengikuti petunjuk arah untuk melalui rute tersebut. Dalam kasus ini, proses menentukan rute adalah computational thinking, sedangkan proses mengikuti petunjuk arah dari rute yang sudah ditentukan adalah programming.

Bukan Sesuatu yang Baru

Metode memecahkan permasalah komplek tentu bukan sesuatu yang baru. Bahkan sangat mungkin kita sudah melakukannya dalam kehiduan sehari. Computational thinking hanya mencoba menteorikan apa yang sudah manusia lakukan sejak lama. Apakah manusia menemukan computational thinking terlebih dahulu sebelum memenmukan komputer itu sendiri? Tentu tidak.

Misalnya, anda bersama sekelompok teman lama memutuskan untuk bertemu lagi setelah sekian lama di akhir pekan. Anda diminta untuk menentukan hal apa saja yang bisa dilakukan bersama-sama. Untuk menentukannya anda kemudian memikirkan beberapa pertanyaan:

  1. Apa saja yang sering kalian lakukan dulu?
  2. Tempat mana saja yang mungkin dikunjungi?
  3. Apa preferensi anda dan teman-teman anda?
  4. Berapa anggaran yang bisa dikeluarkan masing-masing?
  5. Apa yang tidak disukai?
  6. Apa yang tidak bisa dilakukan?
  7. Berapa waktu yang dimiliki?

Dengan adanya pertanyaan-pertanyaan ini, anda akan lebih mudah menentukan kegiatan apa yang bisa dilakukan oleh anda dan teman-teman. 

Kegiatan yang lakukan di atas adalah sebuah bentuk computational thinking. Anda telah melakukan decomposition, dengan memecahkan permasalahan besar menjadi permasalahan-permasalah kecil dan sederhana. Lalu anda melakukan abstraction, dengan berfokus pada data-data yang relevan, seperti lokasi dan cuaca di lokasi tersebut. Kemudian anda juga melakukan pattern recognition dengan menggunakan informasi masa lalu yang akan berulang, seperti informasi tentang kesukaan atau ketidaksukaan. Terakhir, anda melakukan algorithms dengan melakukan perhitungan apa yang akan anda lakukan berdasarkan langkah-langkah yang sudah anda tentukan berdasarkan data dan patern yang anda ketahui. Untuk membantu, anda bisa membuat program komputer berdasarkan data tersebut, sehingga anda bisa dengan mudah dan cepat jika mengulangi proses ini melalui komputer.

21st Century Skills

Seperti yang sudah bapak ibu tahu, 21st century skills terdiri dari 4C. Communication, Collaboration, Creativity, dan Critical Thinking. Computational thinking oleh banyak organisasi sudah dijadika sebagai C kelima. Dan sebagaiman keterampilan lainnya, ia tidak dilatihkan dalam satu kegiatan khusus namun menjadi ruh dari sebuah kegiatna bersama keterampilan lain. Hal ini berkaitan dengan penerapannya di sekolah.

Banyak sekolah mengganggap 4C harus diajarkan khusus melalui materi-materi ekstrakurikuler. Padahal 4C seharusnya terintegrasi dalam keseluruhan proses pembelajaran tersendiri. Begitu juga Computational Thinking, tidak bisa dijadikan sebuah materi ekstrakulikular tersendri, apalagi kemudian diwujudkan dalam bentuk ekstrakurikulan programming atau robotik. Kedua kegiatan ini memang erat dengan dunia computer science, namun tidak serta-merta melatih keterampilan computational thinking siswa. Hal yang perlu kita lakukan sebagai guru adalah bagaimana kita bisa memfasilitasi pembelajaran dengan menyajikan permasalahan kompleks yang harus mereka pecahkan dengan cara berpikir yang komputasional.

]]>
https://millennia.co.id/2020/02/25/memahami-computational-thinking/feed/ 0
Belajar Jatuh Hati Pada Montessori  https://millennia.co.id/2020/02/20/belajar-jatuh-hati-pada-montessori-%ef%bb%bf/ https://millennia.co.id/2020/02/20/belajar-jatuh-hati-pada-montessori-%ef%bb%bf/#respond Thu, 20 Feb 2020 07:23:29 +0000 https://millennia.co.id/?p=5040 Read More]]> Sekolah Montessori kini mulai muncul di banyak tempat. Mungkin orang mengira, Montessori adalah franchise sekolah dari luar negeri. Faktanya Montessori hanyalah sebatas metode dan filosofi pendidikan yang dikembangan oleh Dr. Maria Montessori dari Italia pada tahun 1901. Salah satu hal yang dipercayai dalam Montessori adalah, anak-anak membutuhkan kegiatan yang bermakna, yang tidak hanya untuk menyalurkan energi yang dimiliki anak-anak namun agar merasa bermanfaat dan berharga. Hal ini membuat penulis, yang merupakan guru pendidikan anak usia dini (PAUD) tertarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang Montessori.

Montessori Untuk Usia Dini

Setelah mengawali bab pertama dan kedua dengan penjelasan singkat mengenai Montessori dan bagaimana awal mula perkenalan penulis dengan itu, bab ketiga membahas tentang pentingnya enam tahun pertama usia anak. Mengapa enam tahun pertama sangat penting?

Penulis memantik pembaca dengan kisah yang banyak kita temui disekitar kita, di mana orang tua berkata ke anaknya, “ayah ibu kerja buat kamu supaya bisa masuk SMA favorit dan lanjut kuliah di universitas terbaik.” Padahal apa yang terjadi di masa depan yang dipengaruhi oleh apa yang terjadi saat ini. Hingga usia enam tahun, anak berada pada kondisi absorbent mind dimana anak mendapatkan pengetahuan dengan mencerna setiap informasi yang mereka terima dari lingkungan, baik secara sadar/conscious (0-3 tahun) atau tidak sadar/unconscious (3-6 tahun). 

Bab ketiga ini masih membahas dalam kacamata psikologi perkembangan anak secara umum. Pembahasan terkait Montessori dimulai di bab keempat dengan terlebih dahulu membahas, apa saja yang ditemukan oleh Dr. Maria Montessori di sekolahnya, Cassa de Bambini. 

Ada empat konsep utama dalam penemuan Montessori, anak bukan kertas kosong, ikuti anak, kebebasan dengan batasan, dan hormati anak. Pendidikan modern pada umumnya juga sejatinya memiliki keyakinan yang sama akan keempat hal itu, namun hanya saja perbedaan ada pada seberapa jauh penerapannya dalam proses pembelajaran.

Misalnya pada konsep kertas kosong dan ikuti anak, Montessori benar-benar meyakini bahwa setiap anak dilahirkan dengan bakatnya masing-masing. Tugas guru hanya memfasilitasi melalui berbagai stimulus, namun anak sendiri yang akan menemukannya. Di sekolah lain yang masih tradisional, guru masih berposisi sebagai orang yang lebih tahu, sehingga merasa tahu kemana anak harus dikembangkan. Tidak hanya guru, orang tua seringkali memaksakan kehendaknya sendiri atas dasar demi kebaikan si anak.

Selain keempat konsep utama di atas, ada sembilan konsep lain dalam Montessori. Banyak diantaranya, sebenarnya tidak unik pada Montessori saja seperti di empat konsep utama. Hanya pada sampai sejauh mana penerapan itu dilakukan yang menjadi pembeda. Satu hal yang mungkin unik adalah penggabungan usia. Untuk PAUD, kelas dikelompokan berdasarkan umur, yaitu 1,5-3 tahun dan 3-6 tahun. Hal ini berbeda dengan PAUD konvensional dimana anak dibagi berdasarkan umur yaitu umur 4 tahun di kelompok bermain, 5 tahun di TK-A, dan 6 tahun di TK-B.

Penggabungan kelompok umur di Montessori ditujukan untuk mengenalkan anak kepada dunia mereka yang sebenarnya dimana kotak-kotak pengelompokan menjadi sesuatu yang kabur di dunia nyata. Alasan lain adalah, pembelajaran kolaboratif akan lebih mudah terjadi karena setiap anak tidak berada dalam satu fase yang sama, sehingga satu anak bisa menjadi guru bagi anak lainnya. 

Lima Area Montessori

Jika anda sudah pernah ke sekolah Montessori sebelumnya, pasti anda akan terkagum-kagum dengan ragam mainan pendukung proses belajar anak. Dari hal yang lebih komplek, seperti permainan mencocokan bentuk benda dan tekstur, hingga ke piring dan gelas kaca yang biasa kita temui di rumah. Semua permainan ini saling terkait, tidak yang lebih remeh antara satu mainan dan yang lainnya. 

Seluruh mainan ini diwadahi oleh lima area dalam Montessori yaitu, Area Praktik Kehidupan Sehari-Hari, Area Sensorik, Area Budaya dan Ilmu Pengetahuan, Area Bahasa dan Literasi, serta Area Matematika. Penjelasan kelima area Montessori di buku ini sangat mendetail, termasuk menjelaskan beberapa mainan hingga bagaimana mainan itu bermanfaat bagi anak.  Misal dalam mencocokkan tekstur. Penjelasan dari bagaimana melakukan permainannya, bagaimana mempresentasikannya ke anak, apa manfaatnya, semua dijelaskan dengan cukup baik.

Lima area Montessori dan isinya bisa dibilang bagian inti dari buku ini. Selain menunjukkan kelengkapan penguasaan teknis Montessori dari penulis, bagian ini juga menunjukkan kesungguhan dari arti “kebermaknaan” dalam setiap aktivitas yang ada di Montessori. Setiap permainan mampu dijelaskan dengan lengkap, dan juga ada makna dari setiap permainan. Lebih dari itu, semua berada dalam satu wadah yang disebut Area Montessori, yang sangat erat dengan tahap perkembangan anak itu sendiri, baik secara fisik maupun emosi.

Tugas Guru Montessori

“…. we discovered that education is not something which the teacher does, but that it is NATURAL PROCESS which develops spontaneously in the human being. It is not acquired by listening to words, but in virtue of EXPERIENCES in which the child acts on his environment. The teacher’s task is NOT TO TALK, but to prepare and arrange a series of motives for CULTURAL ACTIVITY in a special environment made for the child.”

Di atas adalah kutipan dari Dr. Maria Montessori yang juga dikutip oleh penulis di bab tujuh buku ini. Montessori menggambarkan posisi guru sebagai orang yang menyiapkan lingkungan bagi anak, menghubungkan mereka dengan lingkungan, observasi dan evaluasi. Tiga hal ini adalah inti peran seorang guru Montessori. 

Memanfaatkan Konsep Montessori di Rumah 

Bab kedelapan hingga kesebelas membahas nilai apa saja yang bisa diambil dan diaplikasikan oleh orang tua rumah atau bahkan siapapun. Misalnya, penulis menyebutkan bagaimana Montessori bisa membantu para dewasa untuk berinteraksi secara positif kepada anak-anak. Hal karena dengan Montessori, orang dewasa bisa memahami perkembangan anak dan bagaimana anak-anak berbeda dengan dewasa dalam memproses informasi di lingkungannya. Selain itu ada beberapa panduan singkat dalam memilih sekolah untuk anak, bagaimana berpisah yang tepat dengan anak.

Secara keseluruhan, buku ini sangat menarik dibaca bagi anda yang ingin berkenalan dengan Montessori. Ditulis oleh seorang guru Montessori asal Indonesia dengan sertifikasi internasional membuat buku ini lebih mudah dipahami namun tetap memuat keaslian nilai-nilai Montessori yang sesungguhnya.

Informasi buku:

Judul : Jatuh Hati Pada Montessori

Penulis : Vidya Dwina Paramita

Penerbit : Bentang Pustaka

Tahun Terbit : 2017

Jumlah Halaman : 200 halaman

]]>
https://millennia.co.id/2020/02/20/belajar-jatuh-hati-pada-montessori-%ef%bb%bf/feed/ 0
Merdeka Belajar Artinya Harus Memaksimalkan Personalized Learning https://millennia.co.id/2020/02/13/merdeka-belajar-artinya-harus-memaksimalkan-personalized-learning/ https://millennia.co.id/2020/02/13/merdeka-belajar-artinya-harus-memaksimalkan-personalized-learning/#respond Thu, 13 Feb 2020 02:49:09 +0000 https://millennia.co.id/?p=5029 Read More]]> Sudah membaca artikel yang mengulas tentang merdeka belajar? Jika sudah, maka anda pasti bisa merasakan semangat yang ingin dibawa dalam konsep tersebut. Seperti namanya, Merdeka Belajar ingin memerdekakan proses belajar untuk memaksimalkan setiap potensi yang dimiliki siswa, tanpa harus terkendala hal-hal yang tidak signifikan. Artinya, sebuah pembelajaran yang berpusat pada siswa atau student centered learning.

Salah satu aspek penting dalam student centered learning adalah adanya personalisasi dalam proses pembelajaran atau yang biasa disebut sebagai personalized learning. Personalized learning merujuk kepada berbagai jenis program, pengalaman belajar, dan pendekatan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan belajar yang beragam dari beragam siswa dengan beragam latar belakang.

Miskonsepsi Dalam Personalized Learning

Bagi anda yang belum pernah membaca tentang personalized learning, hal ini akan nampak menjadi sesuatu yang terlalu rumit bahkan mustahil. Bagaimana tidak, setiap anak memiliki proses pembelaran yang berbeda, Artinya, dengan 25 anak di dalam kelas, guru harus menyiapkan 25 pembelajaran yang berbeda?

Tenang, ini adalah miskonsepsi paling utama tentang personalized learning. Hal terpenting dalam personalized learning adalah keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, sejak tahap awal perencanaan pembelajaran itu sendiri. Mengapa hal ini menjadi penting? Karena dalam personalized learning, siswa memiliki tujuan yang ingin dicapainya. Tujuan inilah yang kemudian dituangkan dalam perencanaan pembelajaran. Dengan ini meskipun tujuan yang dimiliki berbeda antar individu, proses pembelajaran akan tetap memenuhi hal yang ingin dicapai masing-masing siswa.

Hubungan Personalized Learning dan Merdeka Belajar

Semangat yang dibawakan oleh Merdeka Belajar sungguh luar biasa, namun menjadi tantangan bagi guru untuk bagaimana memaksimalkan setiap potensi individu siswa. Personalized Learnign menjadi hal yang harus bisa diupayakan untuk mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya dalam belajar. Tanpa mengupayakan personalized learning, kita akan kembali terjebak dalam rutinitas pembelajaran di sekolah yang tidak berubah selama puluhan tahun.

Salah satu poin merdeka belajar adalah menghilangkan Ujian Nasional dan menghadirkan asesmen kompetensi di setiap tengah jenjang. Jika proses pembelajaran di dalam kelas masih dalam bentuk yang sama, dimana setiap siswa sudah memiliki target yang sama yang ditetapkan orang lain, lalu melalui proses pembelajaran yang juga sudah disiapkan oleh orang lain, maka pendidikan di sekolah akan tetap menjadi proses mengalienasikan siswa terhadap belajar itu sendiri.

Dengan melakukan personalized learning, asesmen kompetensi bisa menjadi lebih bermakna karena komprensi yang nantinya dilakukan asesmen telah menjadi target capaian siswa yang ia tetap sendiri atas fasilitasi guru. Hal ini membuat siswa bisa relate dengan proses pembelajaran.

Selama ini, ada semacam anekdot bahwa setiap pergantian menteri, ada pergantian kurikulum, namun kualitas pendidikan tetap begitu-begitu saja. Merdeka belajar, meskipun bukanlah sebuah bentuk kurikulum baru, telah menawarkan sebuah konsep yang bisa jadi titik awal reformasi sistem pendidikan di Indonesia. Kita semua sebagai aktor utama dalam pendidikan adalah faktor yang akan menentukan keberhasilannya. Tanpa kita mau belajar hal baru, dan menerapkan best practices seperti personalized learning, maka anekdot di awal hanya akan terus berulang kembali.

]]>
https://millennia.co.id/2020/02/13/merdeka-belajar-artinya-harus-memaksimalkan-personalized-learning/feed/ 0
Bagaimana Sekolah Mempersiapkan Kejadian Luar Biasa https://millennia.co.id/2020/02/07/bagaimana-sekolah-mempersiapkan-kejadian-luar-biasa/ https://millennia.co.id/2020/02/07/bagaimana-sekolah-mempersiapkan-kejadian-luar-biasa/#respond Fri, 07 Feb 2020 08:43:48 +0000 https://millennia.co.id/?p=5016 Read More]]> Kejadian luar biasa (outbreak) virus 2019-nCov atau Wuhan Corona saat ini sedang terjadi di China. Seluruh warga harus melakukan kegiatan di luar rumah dan tempat ramai seminimal mungkin. Hal ini juga berlaku untuk sekolah. Pemerintah mutuskan untuk memperpanjang libur tahun baru China akibat mewabahnya virus ini.

Kini, sudah memasuki bulan kedua, dan pemerintah Tiongkok masih menunda awal semester baru bahkan mungkin hingga Maret. Salah satu cara yang kemudian dijajaki adalah memperkenalkan teknologi pembelajaran daring (online learning). Beberapa sekolah bahkan sudah mulai mempersiapkan, baik infrastruktur teknis dan pelatihan kepada para guru untuk melakukan pembelajaran jarak jauh secara daring.

Menteri Pendidikan Tiongkok sendiri sudah menghimbau agar sekolah bisa mulai memanfaatkan platform pembelajaran daring. Selain itu pemerintah Tiongkok juga sudah berencana untuk meluncurkan internet cloud classroom pada 17 Februari 2020, yang berisi materi lengkap pembelajaran untuk siswa SMP dan SMA. (Sumber)

Sudah siapkah Indonesia?

Kejadian luar biasa seperti ini tentu berpeluang terjadi di belahan bumi manapun dalam bentuk apapun. Bisa jadi gunung meletus, banjir, gempa bumi, kabut asap, dan wabah penyakit. Pada kasus bencana alam, tentu tidak banyak yang bisa diperbuat oleh sekolah selain menunggu waktu hingga kondisi telah kondusif. Pada kasus wabah virus Corona, peluang agar siswa mampu tetap belajar masih ada. Itulah yang kini ditempuh oleh pemerintah Tiongkok.

Menjadi sebuah hal yang penting bagi guru anda tentang pembelajaran daring sejak sekarang. Platform pembelajaran daring seperti Google Classroom sebenarnya bisa kita gunakan dalam kegiatan kelas sehari-hari. Perlu adanya pembiasaan terkait hal ini. Platform seperti ini bisa digunakan sebagai sarana penunjang yang saling melengkapi dengna pembelajaran di ruang kelas. kalaupun anda masih merasa mengajar dengan cara yang konvensional, setidaknya anda bisa memulai untuk memanfaatkan platform seperti ini untuk berbagi bahan ajar dan tugas di rumah.

Ketika guru sudah terbiasa menggunakan platform pembelajaran daring, jika ada keadaan yang memaksa kegiatan sekolah tidak bisa dilakukan dengan guru bisa memanfaatkannya dengna lebih baik. Bisa dengan menambahkan rekaman video sebagai pengantar atau bisa juga sebagai pembelajaran tatap muka jarak jauh. Hal ini akan sangat membantu bagi siswa untuk dapat senantiasa belajar meski pada keadaan-keadaan yang menyulitkan.

Kesiapan kita sebagai bangsa tentu masih menjadi masalah tersendiri. Masalah paling utama tentu terkait infrastruktur fisik, berupa sarana dan prasarana internet. Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan penetrasi internet di Indonesia tahun 2019 adalah 64.8%. Artinya, jika penggunaan sistem pembelajaran daring jika diterapkan sebagai kebijakan nasional, masih ada banyak siswa yang tidak memiliki akses terhadap internet.

Selain masalah infrastruktur teknologi, masalah literasi teknologi di kalangan guru menjadi permasalahan tersendiri. Berdasarkan pengalaman saya melakukan pelatihan teknologi pendidikan, bahkan sekolah-sekolah terbaik di sekitaran Jakarta, masih ada guru-guru yang memang belum bisa menerapkan teknologi pendidikan. Di daerah tentu jumlahnya akan semakin lebih banyak.

Satu-satunya Solusi

Ketika kejadian luar biasa, seperti saat wabah virus terjadi, penggunaan pembelajaran daring menjadi satu-satunya solusi yang memungkinkan. Selain belajar yang benar-benar mandiri, fasilitasi oleh guru hanya mampu dengan efektif dilakukan melalui internet. Oleh sebab itu, mempersiapkan guru untuk mampu memanfaat teknologi menjadi penting, bukan untuk mempersiapkan kejadian luar biasa seperti sekarang ini, namun untuk dimanfaatkan sehari-hari.

]]>
https://millennia.co.id/2020/02/07/bagaimana-sekolah-mempersiapkan-kejadian-luar-biasa/feed/ 0
Mempelajari Lebih Lanjut Konsep Merdeka Belajar, dan Dampaknya Bagi Siswa, Guru, dan Sekolah https://millennia.co.id/2020/01/15/mempelajari-lebih-lanjut-konsep-merdeka-belajar-dan-dampaknya-bagi-siswa-guru-dan-sekolah/ https://millennia.co.id/2020/01/15/mempelajari-lebih-lanjut-konsep-merdeka-belajar-dan-dampaknya-bagi-siswa-guru-dan-sekolah/#respond Wed, 15 Jan 2020 05:31:15 +0000 https://millennia.co.id/?p=5005 Read More]]> 11 Desember lalu, Mas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita yang baru, Nadiem Makarim, menjelaskan 4 perubahan dalam sistem pendidikan di Indonesia yang disebut sebagai Merdeka Belajar. Pemaparannya sendiri bisa dikatakan masih sangat konseptual, dan sampai sekarang belum diberikan panduan teknis mengenai konsep tersebut.

Permasalahannya mungkin ada di sumber daya manusia pendidikan kita, yang sangat terbiasa dengan serangkaian panduan teknis, pelatihan, hingga bimbingan teknis ketika ada kebijakan baru. Mas Menteri sendiri memang sepertinya secara sengaja tidak membuat konsepnya menjadi detil, mengajak sekolah untuk berpikir kreatif dan mandiri, karena apa yang diperlukan oleh setiap sekolah berbeda dan sekolah itu sendiri yang paling menyadarinya.

Eitss, tapi jangan julid banyak-banyak dulu ya terkait kebijakan baru ini. Kita telaah lebih lanjut dulu yuk poin-poin pentingnya.

1. Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) 2020 Sepenuhnya Tanggung Jawab Sekolah

Sebelumnya, USBN meskipun bernama Ujian Sekolah, panduan lengkapnya telah ditetapkan dari atas ke bawah. Dari Badan Nasional Satuan Pendidikan (BSNP), ke provinsi, lalu ke Kelompok Kerja Gugu (KKG) atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), baru ke guru di sekolah.

Nadiem Makarim menyebutkan, “ujian yang diselenggarakan hanya oleh sekolah.” Artinya, USBN sepenuhnya menjadi tanggung jawab sekolah. Terkait USBN ini, bahkan guru diberikan kebebasan dalam membuat model ujiannya. Boleh menggunakan metode lama seperti ujian tertulis,, namun guru juga diperkenankan untuk membuat ujiannya sendiri, bisa berupa portofolio, karya tulis, apapun itu.

Jika sebelumnya Dinas Pendidikan di daerah dan KKG/MGMP memiliki andil besar dalam penentuan soal ujian, kini peran Dinas pendidikan dialihkan sebagai badan yang mengurusi pengembangan kapasitas guru dan sekolah. Artinya, Mas Menteri benar menginginkan kemerdekaan guru sebesar-besarnya dalam penyelenggaraan USBN.

2. 2020 Ujian Nasional (UN) Terakhir

UN selalu menjadi momok bagi siswa. Bagi yang mempercayainya, UN adalah pemacu semangat belajar siswa. Bagi yang kontra, UN hanya akan menjadi tujuan semu, dimana siswa belajar semata-mata untuk dapat nilai bagus saja. Selama 10 tahun terakhir, gelombang pendukung moratorium UN kian besar namun selalu tertahan di birokrasi yang menganggap UN maish sangat penting.

Semangat ini yang mungkin dipahami oleh Mas Menteri, yang melihat bahwa UN sebagai pemacu belajar siswa adalah pacuan yang semu. Seharusnya, siswa belajar karena menyadari bahwa belajar adalah proses yang mereka senangi karena proses itu sendiri, bukan karena faktor lain yang berada di luarnya. Keberadaan UN sendiri akan digantikan oleh Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Keduanya dirancang khusus untuk berfungsi sebagai pemetaan dan perbaikan mutu pendidikan secara nasional.

Asesesmen kompetensi ini nantinya untuk mengukur kemampuan bernalar siswa dalam memecahkan permasalahan-permasalahan kompleks dalam beragam konteks, baik personal maupun profesional. Bentuknya seperti apa? Hal ini masih dikaji oleh Kemendikbud, namun yang dicontohkan adalah kompetensi bernalar tentang teks (literasi) dan angka (numerasi).

Literasi dan Numerasi dianggap sebagai sebuah kompetensi mendasar sehingga dijadikan sebagai acuan. Perlu ditekankan bahwa ini bukan berarti berfokus pada bahasa dan matematika saja, karena kedua kompetensi itu adalah kompetensi berpikir dasar. Kedua kompetensi ini malah seharusnya dikembangkan melalui berbagai mata pelajaran, tidak hanya matematika dan bahasa saja.

Asesmen ini akan dilakukan di pertengahan jenjang sekolah, SD saat kelas 4, SMP di Kelas 8, dan SMA di kelas 11. Pemilihan tengah jenjang ini sesuai dengan tujuan utama yaitu identfikasi kebutuhan belajar masing-masing siswa dan bisa menjadi sebuah deteksi dini bagi beragam permasalahan mutu pendidikan nasional. Karena dilakukan ditengah jenjang, perbaikan pada aspek-aspek yang diperlukan baik pada siswa ataupu proses pembelajaran, bisa dilakukan. Asesmen dengan ini tidak berarti ada beban tambahan baik bagi guru maupun siswa, karena memang yang dilakukan asesmen bukanlah konten tambahan.

3. Penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Semangat utama penyederhanaan RPP adalah mengurangi beban administratif guru agar bisa lebih fokus dalam mempersiapkan dan mengevaluasi proses pembelajaran itu sendiri. Untuk hal ini, Mendikbud memberi tiga prinsip acuan yaitu RPP harus efisien, efektif, dan berorentasi pada murid. Apa maksudnya?

Efisien, berarti penulisan RPP dilakukan dengan tepat dan tidak menghabiskan banyak waktu dan tenaga. Efektif, berarti penulisan RPP dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Berorientasi pada murid, artinya penulisan RPP dilakukan dengan mempertimbangkan kesiapan, ketertarikan, dan kebutuhan belajar murid di kelas. Selain itu, RPP juga harus memuat tiga komponen, yaitu tujuan pembelajaran, langkah pembelajaran, dan penilaian pembelajaran.

Adanya ketiga prinsip dan komponen tersebut berarti, tidak ada pembatasan bagi guru dalam membuat RPP. Guru sangat diperbolehkan membuat RPP sendiri selama tetap sesuai dengan ketiga prinsip di atas. Jika guru tetap ingin membuat RPP berdasarkan format yang sudah ada, juga diperbolehkan, selama format tersebut sudah sesuai dengan tiga prinsip tersebut.

RPP 1 halaman?

4. Kebijakan Zonasi Tahun Ajaran 2020/2021

Untuk hal ini initinya, daerah kini diberikan kebebasan lebih dalam menentukan zonasi sekolah dan prosentase minimal penerimaan siswa. Peraturan baru ini sangat teknis, jadi langsung dicek di Permendikbud No. 44 Tahun 2019 saja ya 🙂

Kini, bagaimana kita insan pendidikan di Indonesia menanggapi arah baru pendidikan Indonesia? Apakah Merdeka belajar bisa menjadi solusi nyata dari kurangnya kualitas pendidikan kita secara umum?

]]>
https://millennia.co.id/2020/01/15/mempelajari-lebih-lanjut-konsep-merdeka-belajar-dan-dampaknya-bagi-siswa-guru-dan-sekolah/feed/ 0
Masihkah Sekolah Diperlukan? https://millennia.co.id/2020/01/13/masihkah-sekolah-diperlukan/ https://millennia.co.id/2020/01/13/masihkah-sekolah-diperlukan/#respond Mon, 13 Jan 2020 04:04:22 +0000 https://millennia.co.id/?p=5003 Read More]]> Penunjukan Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dapat dilihat sebagai babak baru dalam dunia pendidikan nasional. Presiden Jokowi seakan ingin menunjukkan komitmennya terhadap visi “SDM Unggul, Indonesia Maju” di masa depan.

Pidato Menteri Pendidikan dalam hari guru yang lalu menyiratkan banyak yang akan berubah dalam dunia pendidikan Indonesia. Latar belakang beliau yang tidak memiliki pengalaman teknis di bidang pendidikan menjadikan ini sebagai diskusi yang menarik. Akankah sistem pendidikan kita mengadopsi era 4.0? Seberapa relevankah model sekolah saat ini? Apakah di masa depan, sekolah masih diperlukan?

Tantangan Kebutuhan SDM Masa Depan

Pembicaraan tentang SDM masa depan saat ini, hampir selalu dikaitkan dengan teknologi. Era 4.0 memang digerakkan oleh kemajuan teknologi. Sebaliknya, kemajuan teknologi meningkatkan pula interkoneksi dan otomatisasi. Oleh karena itu, penguasaan teknologi menjadi satu syarat penting SDM unggul di masa depan.

Namun, perlu disadari bahwa teknologi hanyalah sarana. Ia hanyalah alat. Penentu berguna atau tidaknya alat tersebut adalah orang yang menggunakan teknologi tersebut. The man behind the gun. Dan alat tersebut hanya akan bermanfaat secara optimal, jika digunakan berdasarkan pemikiran yang kritis.

Critical thinking bukan hanya berbicara soal ketidaksetujuan terhadap sesuatu. Ia meliputi kemampuan mengamati, membaca data, melakukan analisa, dan menentukan sebab-akibat.. Seluruh proses berpikir kritis tersebut akan menjadi optimal jika didukung dengan penguasaan teknologi.

Kemampuan berpikir kritis akan membawa kepada identifikasi masalah yang tepat. Untuk masuk ke dalam desain penyelesaian yang praktis dan tepat guna, dibutuhkan kemampuan berpikir yang kreatif dan inovatif (creative and innovative thingking).

Kedua kemampuan tersebut, berpikir kritis dan berpikir kreatif, bersifat saling melengkapi. Keduanya menjadi kemampuan dasar yang harus  dikuasai oleh SDM unggul di masa depan.

Sebuah desain atau rencana penyelesaian suatu masalah tidak akan dapat dikerjakan sendirian. Apalagi jika hal ini merupakan masalah publik. Dibutuhkan kerjasama berbagai pihak dalam menyelesaiakan suatu proyek  atau masalah. Kemampuan dalam berkolaborasi menjadi poin penting selanjutnya.

Terakhir, semua kemampuan tersebut akan menjadi kontra-produktif, bahkan bisa destruktif, jika tidak diarahkan oleh nilai-nilai yang baik. Nilai ini bahkan bisa disebut asas, dasar, atau  landasan bagi semua kemampuan yang lain.

Secara garis besar, SDM di masa depan akan ditantang untuk memiliki:

  1. Penguasaan teknologi
  2. Kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan inovatif
  3. Kemampuan berkolaborasi atau bekerjasama
  4. Karakter dan nilai-nilai yang baik.

Visi Proses Pembelajaran Masa Depan

Visi SDM unggul di masa depan perlu dijabarkan dalam misi proses pembelajaran yang tepat. Adalahh tidak mungkin menuju ke suatu tempat, jika jalan yang diambil justru berbelok atau bahkan berlawanan.

Gambaran proses pembelajaran yang ideal sebenarnya telah disampaikan oleh Menteri Pendidikan Nadiem Makarim dalam pidatonya. Walaupun hanya sebagian kecil saja. Sedikitnya ada 5 hal yang menjadi concern beliau dilihat dari kalimatnya.[1]

1. Ajak kelas berdiskusi, bukan hanya mendengar

Dalam kelas masa depan, pelajar akan aktif menyampaikan ide dan gagasan, mempertanyakan, memberikan jawaban, menyanggah, dan mengambil kesimpulan.

2. Berikan kesempatan kepada murid untuk mengajar di kelas

Kelas masa depan memberikan kesempatan kepada pelajar untuk mengomunikasikan pemahaman, ide, dan gagasannya. Diskusi, praktik, dan mengajarkan merupakan ciri pembelajaran aktif dengan tingkat retensi hasil  belajar mencapai 90%.[2]

3.Cetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas

Kelas masa depan tidak dibatasi oleh sekat ruangan. Pembelajaran tak boleh menjadi sesuatu yang teoritis dan mengawang-awang. Ia harus berdampak dan memiliki manfaat praktis untuk menyelesaikan masalah di lapangan.

4.Temukan suatu bakat dalam diri murid yang kurang percaya diri

Kelas masa depan mendorong pelajar untuk berani mengambil langkah yang bertangungjawab atas masa depannya. Pelajar dapat memilih bidang yang ia minati, dan mengembangkan dirinya di sana. Guru akan memberikan dorongan, semangat, dan bantuan untuk pelajar tersebut berkembang.

5.Tawarkan bantuan kepada guru yang sedang mengalami kesulitan

Upgrading guru masa depan akan terus berjalan, baik secara mandiri atau dengan bantuan. Saling tukar ide dan gagasan dapat dilakukan walaupun terpisah jarak dan waktu. Penerapan Internet of Things (IoT) dalam dunia pendidikan akan mempermudah hal tersebut terwujud.

Sekolah, Antara Realita dan Harapan

Kata kunci dalam visi  pembelajaran masa depan adalah student centered learning dan Internet of Things. Sedangkan garda terdepan yang akan mewujudkan visi tersebut adalah sekolah, sebagai lembagai pendidikan formal. Sekolah masa depan diharapkan telah menerapkan 2 hal tersebut dalam proses pembelajarannya.

Sumber belajar tak lagi hanya berasal dari guru dan sekolah. Tugas guru menjadi lebih dekat dan akrab. Relasi guru-murid tak lagi berbentuk vertikal, tapi menjadi horizontal. Guru akan menjadi partner, fasilitator, dan motivator yang mendorong pelajar menyelesaikan proyeknya.

Internet menjadi sumber belajar yang tak terbatas. Teknologi ini juga menjadi basis utama dalam perencanaan, proses pembelajaran, hingga evaluasi. Administrasi sekolah berjalan secara otomatis dan terkoneksi langsung dengan pihak-pihak terkait.

Orang tua dapat mengecek secara realtime keberadaan dan aktivitas anaknya. Guru dapat mengecek keadaan pelajar dan progress serta pencapaian proyek. Pelajar dapat melakukan riset dan memberikan umpan balik kepada sesama pelajar, guru, sekolah, hingga institusi publik.

Permasalahan utama bidang pendidikan di Indonesia adalah tentang pemerataan. Sekolah-sekolah yang terletak di  kota besar dan memiliki sumber daya yang baik bisa saja menerapkan sistem tersebut. Namun, bagaimana dengan sekolah yang terpencil? Bagaimana dengan sekolah yang mayoritas muridnya berasal dari keluarga miskin?

Solusi Sistem Pendidikan Masa Depan

Solusi dari masalah tersebut kembali ke kunci awal, Internet of Things. Sekolah tak lagi boleh membatasi diri dalam sekat-sekat ruangan. Teknologi harus dimanfaatkan dalam semua tahap pembelajaran maupun administrasi sekolah.

Dengan demikian, pemerintah tidak perlu membangun gedung sekolah baru. Pemerintah hanya perlu membangun sarana konektivitas dan sistem sekolahnya. Data-data disimpan dalam cloud storage dan dapat diakses secara realtime dari mana saja.

Guru dan pelajar tak lagi harus bertatap muka setiap hari. Proyek dapat disusun setiap bulan dengan waktu konsultasi tatap muka setiap minggu. Monitoring dapat dilakukan setiap dibutuhkan melalui jaringan. Absensi bukan lagi penentu kelulusan, melainkan keberhasilan proyek yang dilakukan.

Arah proyek pendidikan dasar disusun agar terkait dengan diri dan lingkungan. Sedangkan pada pendidikan menengah bawah ditekankan pada lingkungan sosial. Proyek di sekolah menengah atas seharusnya telah mulai menyelesaikan masalah-masalah nyata dalam keseharian.

Setiap proyek harus dilakukan dalam kelompok dan sebisa mungkin melibatkan unsur lain di luar sekolah. Untuk mengasah nilai dan karakter pelajar, secara berkala dapat diberikan proyek bakti sosial.

Di luar waktu tersebut, pelajar dapat mengembangkan dirinya dalam bidang yang ia sukai. Sekolah juga dapat membuka modul-modul khusus yang bebas diambil sesuai kebutuhan. Modul juga dapat dibatasi atau diberikan prasyarat tertentu, tergantung kondisi pelajar.

Solusi sistem pendidikan masa depan tampak radikal dan membutuhkan banyak perubahan. Pertanyaannya adalah, maukah kita?


[1] Pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada Upacara Bendera Peringatan Hari Guru Nasional tahun 2019. Dapat diunduh di alamat http://kemdikbud.go.id/main/files/download/e1d9937e0378234

[2] Nurdinah Hanifah, J. Julia, Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Dasar: Membedah Anatomi Kurikulum 2013 untuk Membangun Masa Depan Pendidikan yang Lebih Baik, (Sumedang: UPI Sumedang Press, 2014), hlm. 136.

]]>
https://millennia.co.id/2020/01/13/masihkah-sekolah-diperlukan/feed/ 0
Kolaborasi Netflix – Kemendikbud, Jadi Apa? https://millennia.co.id/2020/01/10/kolaborasi-netflix-kemendikbud-jadi-apa/ https://millennia.co.id/2020/01/10/kolaborasi-netflix-kemendikbud-jadi-apa/#respond Fri, 10 Jan 2020 04:35:56 +0000 https://millennia.co.id/?p=5000 Read More]]> Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan Netflx untuk pengembangan industri perfilman di Indonesia. Sebuah langkah yang menarik, apalagi mengingat Netflix masih menjadi yang terdepan sebagai platform hiburan digital yang kini juga telah menjadi pembuat konten yang telah diperhitungkan kualitasnya.

Kerjasama kedua pihak ini mencakupi beberapa hal. Pengembangan penulis film menjadi yang utama, di mana akan ada 15 orang yang akan dikirim ke Hollywood untuk memperoleh pelatihan penulisan film langsung dari para praktisi kelas dunia.

Mas Menteri Nadiem ini mengambil posisi yang menarik, bagi industri film, pekerja film, dan juga program pendidikan perfilman di Indonesia. Kerjasama dengan Netflix artinya adalah sebuah peluang besar bagi film dan serial televisi Indonesia bisa meningkatkan kualitasnya dan memperoleh ketersebaran yang maksimal.

Sebagai program inisiasi, nantinya diharapkan ada proses perubahan ke lini lain terkait industri film. Sumber daya manusia terutamanya, menjadi perhatian banyak sutradara film ternama di Indonesia, yang banyak mengeluhkan bahwa dari segi ide, Indonesia sangat tidak kalah dengan negara lain, hanya saja sumber daya manusia yang dimiliki menjadi kendala untuk merealisasikan ide cerita dengna maksimal.

Kerjasama dengan Netflix bisa membuka peluang kerjasama dengan tim produksi dari Hollywood, yang diharapkan bisa menjadi sebuah program knolewledge transfer. Selain itu, industri yang baik nantinya akan menghasilkan institusi pendidikan perfilman baru lainnya. Kekurangan kualitas SDM salah satunya karena kurangnya sekolah film di Indonesia.

Perhatian selanjutnya adalah sinergi bisnis itu sendiri. Kemendikbud mengklaim bahwa tidak ikut campur dalam urusan Telkom dan Telkomsel yang memblokir akses Netflix karena itu urusan bisnis. Menurut saya, Kemendikbud harus berperan dalam hal ini. Bagaimana kita bisa berencana mengembangkan industri film dengan menggandeng Netflix, sementara dua penyedia jasa internet terbesar di Indonesia, dan dimiliki oleh negara, memblokir akses ke Netflix.

Sudah seharusnya Mas Nadiem ngobrol-ngobrol dengan Pak Menkominfo. Masa ya nanti kita sudah punya film dan serial tv yang bagus, tapi tidak bisa menontonnya karena akses Netflix di blok?

]]>
https://millennia.co.id/2020/01/10/kolaborasi-netflix-kemendikbud-jadi-apa/feed/ 0
Kurikulum Masa Depan Berbasis Pemecahan Masalah https://millennia.co.id/2019/12/31/kurikulum-masa-depan-berbasis-pemecahan-masalah/ https://millennia.co.id/2019/12/31/kurikulum-masa-depan-berbasis-pemecahan-masalah/#respond Tue, 31 Dec 2019 04:33:56 +0000 https://millennia.co.id/?p=4995 Read More]]> Apakah kita menyadari bahwa bertanya merupakan dorongan alami anak-anak?.  Penelitian di Inggris menyebutkan bahwa anak perempuan berusia 4 tahun menanyakan rata-rata 392 pertanyaan per hari.

Mengapa anak-anak suka sekali bertanya?.  Karena begitulah cara mereka memuaskan rasa ingin tahu. Pertanyaan seperti “mengapa langit berwarna biru?”.  Atau yang paling merepotkan orang tua adalah “darimana bayi lahir?”. Semuanya adalah pertanyaan tulus berlandaskan keingintahuan.

Pertanyaan seperti yang ditanyakan anak-anak sama sifatnya dengan pertanyaan yang diajukan Isaac Newton saat bertanya “Mengapa apel jatuh ke permukaan tanah?”. Pertanyaan inilah yang akhirnya membuat seluruh dunia tahu adanya gravitasi bumi.  Bayangkan kalau Newton tidak pernah mempertanyakan apel yang jatuh dari pohon, semua inovasi yang memanfaatkan gaya gravitasi tidak akan pernah terwujud. 

Pertanyaan adalah kunci untuk membuka pintu-pintu selanjutnya pada ilmu pengetahuan.  Melalui pertanyaanlah aksi nyata akan terjadi. Ilmu pengetahuan dan aksi seharusnya menjadi tujuan utama dari setiap pembelajaran yang kita lakukan. Namun yang menjadi pertanyaan adalah :

Apakah kurikulum yang kita gunakan sudah memberi ruang bagi siswa untuk bertanya sebanyak-banyaknya?.

Apakah kurikulum yang kita gunakan sudah membuka pintu bagi ilmu pengetahuan baru dan mendorong aksi?.

Sebagai pendidik pada Sekolah Dasar, cara terbaik mendorong siswa bertanya, salah satunya dengan  dengan mengasah kemampuan pendidik untuk bertanya. Sebagai orang dewasa, kita suka menganggap remeh bahwa bertanya merupakan hal mudah.  Namun kalau kita lihat fakta di lapangan, berapa banyak pendidik yang bisa mengajukan pertanyaan berkualitas untuk merangsang proses berpikir dan investigasi para siswa.

Melatih siswa mengajukan pertanyaan tidak sesedrhana menanyakan “sampai di sini, apakah ada yang mau bertanya?” di akhir pelajaran.  Tapi, rencana pembelajaran bisa menyertakan video, gambar, atau cerita yang akan digunakan sebagai objek pertanyaan siswa.

Siswa bisa menggunakan template pertanyaan yang diberikan guru seperti “Apa hubungan antara ………………… dengan…………………..?” , “Bagaimana pengaruh……………. pada…………..,” atau “Apa yang menyebabkan terjadinya…………………..?” Lalu, siswa mengisi titik-titik dengan variable-variabel yang mereka dapatkan dari media cerita, video, atau gambar.

Mengajukan pertanyaan yang tepat dapat mendorong aksi nyata pemecahan masalah. Kamera Polaroid tercipta karena anak dari Edwin Land, penemu kamera Polaroid, bertanya kepada ayahnya mengapa ia harus menunggu untuk bisa melihat foto liburan mereka. Pertanyaan tersebut memberikannya ide untuk mengembangkan sebuah inovasi kamera instan seperti kamera Polaroid yang kita kenal sekarang.

Untuk melakukan aksi alias menjadi problem solver, siswa juga harus belajar mengenal alur proses desain. Tahapan Proses Desain yang perlu dilakukan siswa meliputi : Identifikasi masalah, brainstorming, mendesain pemecahan masalah, membuat pemecahan masalah, tes dan evaluasi, mendesain ulang, membagikan solusi, kemudian refleksi.

Masalah diidentifikasi sebagai jarak antara ekspektasi dan kenyataan yang ada.  Pemikiran desain yang baik seharusnya berangkat dari empati terhadap permasalahan di sekitar.

Rancangan kurikulum dengan tujuan akhir menciptakan seorang problem solver idealnya memberi ruang bagi guru dan siswa untuk mengasah kepekaan melihat masalah dimulai dari lingkup kecil seperti kelas, lingkungan sekolah, lingkungan rumah, sampai ke ruang lingkup besar seperti kota tempat siswa tinggal.

Dengan akses informasi yang sudah tak terbatas, siswa Sekolah Dasar dapat dengan mudah membandingkan keadaaan di sekitarnya dengan kondisi ideal dan akhirnya menimbulkan pertanyaan “Apa yang bisa saya lakukan untuk memperkecil jarak antara ekspektasi dan kenyataan”.

Dalam kurikulum berbasis pemecahan masalah batas-batas antara disiplin ilmu juga terjembatani. Siswa didorong untuk membangun desain pemecahan dengan mengintegrasikan beberapa displin ilmu. Contohnya, matematika dan sains pesawat sederhana dapat dipakai untuk mengukur dan menggerakkan alat pembersih sepatu sebagai pemecahan masalah ruang kelas yang kotor di musim penghujan.

Seluruh proses tidak statis melainkan dinamis. Mengikuti alur pemikiran desain, siswa akan belajar berhadapan dengan kegagalan pada tahap tes dan evaluasi dari proses desain. Pada tahap ini, teori-teori yang mereka pelajari menjadi bentuk nyata bukan hanya fakta. Adakalanya proses pengukuran yang mereka pelajari di pelajaran matematika tidak bekerja dan mereka lagi-lagi dituntut untuk menjadi pemecah masalah dengan berbekal keterampilan berpikir.

Sebagai kesimpulan, kurikulum berbasis pemecahan masalah adalah kurikulum yang lentur dengan ruang di sana sini untuk memungkinkan eksplorasi. Rencana pembelajaran harian melibatkan pertanyaan-pertanyaan yang harus diajukan guru untuk memancing minat investigasi lebih jauh. Di ruang kelas tidak ada pertanyaan yang terlalu remeh untuk  dicari bersama jawabannya . Di sinilah cara alami seorang anak manusia belajar difasilitasi.

Mendesain pemecahan masalah juga merupakan proses pembelajaran yang merangsang banyak keterampilan siswa. Beberapa diantaranya adalah keterampilan menganalisis dan memecahkan masalah. Kurikulum berbasis pemecahan masalah memungkinkan siswa meleburkan disiplin-disiplin ilmu menjadi sebuah solusi. Sebuah kondisi yang lebih dekat dengan dunia nyata jika dibandingkan dengan kurikulum konvensional yang mengotak-ngotakkan materi pelajaran.

]]>
https://millennia.co.id/2019/12/31/kurikulum-masa-depan-berbasis-pemecahan-masalah/feed/ 0