Millennia 21st Century Academy https://millennia.co.id Wed, 15 Jan 2020 05:31:16 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.1.4 Mempelajari Lebih Lanjut Konsep Merdeka Belajar, dan Dampaknya Bagi Siswa, Guru, dan Sekolah https://millennia.co.id/2020/01/15/mempelajari-lebih-lanjut-konsep-merdeka-belajar-dan-dampaknya-bagi-siswa-guru-dan-sekolah/ https://millennia.co.id/2020/01/15/mempelajari-lebih-lanjut-konsep-merdeka-belajar-dan-dampaknya-bagi-siswa-guru-dan-sekolah/#respond Wed, 15 Jan 2020 05:31:15 +0000 https://millennia.co.id/?p=5005 Read More]]> 11 Desember lalu, Mas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita yang baru, Nadiem Makarim, menjelaskan 4 perubahan dalam sistem pendidikan di Indonesia yang disebut sebagai Merdeka Belajar. Pemaparannya sendiri bisa dikatakan masih sangat konseptual, dan sampai sekarang belum diberikan panduan teknis mengenai konsep tersebut.

Permasalahannya mungkin ada di sumber daya manusia pendidikan kita, yang sangat terbiasa dengan serangkaian panduan teknis, pelatihan, hingga bimbingan teknis ketika ada kebijakan baru. Mas Menteri sendiri memang sepertinya secara sengaja tidak membuat konsepnya menjadi detil, mengajak sekolah untuk berpikir kreatif dan mandiri, karena apa yang diperlukan oleh setiap sekolah berbeda dan sekolah itu sendiri yang paling menyadarinya.

Eitss, tapi jangan julid banyak-banyak dulu ya terkait kebijakan baru ini. Kita telaah lebih lanjut dulu yuk poin-poin pentingnya.

1. Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) 2020 Sepenuhnya Tanggung Jawab Sekolah

Sebelumnya, USBN meskipun bernama Ujian Sekolah, panduan lengkapnya telah ditetapkan dari atas ke bawah. Dari Badan Nasional Satuan Pendidikan (BSNP), ke provinsi, lalu ke Kelompok Kerja Gugu (KKG) atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), baru ke guru di sekolah.

Nadiem Makarim menyebutkan, “ujian yang diselenggarakan hanya oleh sekolah.” Artinya, USBN sepenuhnya menjadi tanggung jawab sekolah. Terkait USBN ini, bahkan guru diberikan kebebasan dalam membuat model ujiannya. Boleh menggunakan metode lama seperti ujian tertulis,, namun guru juga diperkenankan untuk membuat ujiannya sendiri, bisa berupa portofolio, karya tulis, apapun itu.

Jika sebelumnya Dinas Pendidikan di daerah dan KKG/MGMP memiliki andil besar dalam penentuan soal ujian, kini peran Dinas pendidikan dialihkan sebagai badan yang mengurusi pengembangan kapasitas guru dan sekolah. Artinya, Mas Menteri benar menginginkan kemerdekaan guru sebesar-besarnya dalam penyelenggaraan USBN.

2. 2020 Ujian Nasional (UN) Terakhir

UN selalu menjadi momok bagi siswa. Bagi yang mempercayainya, UN adalah pemacu semangat belajar siswa. Bagi yang kontra, UN hanya akan menjadi tujuan semu, dimana siswa belajar semata-mata untuk dapat nilai bagus saja. Selama 10 tahun terakhir, gelombang pendukung moratorium UN kian besar namun selalu tertahan di birokrasi yang menganggap UN maish sangat penting.

Semangat ini yang mungkin dipahami oleh Mas Menteri, yang melihat bahwa UN sebagai pemacu belajar siswa adalah pacuan yang semu. Seharusnya, siswa belajar karena menyadari bahwa belajar adalah proses yang mereka senangi karena proses itu sendiri, bukan karena faktor lain yang berada di luarnya. Keberadaan UN sendiri akan digantikan oleh Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Keduanya dirancang khusus untuk berfungsi sebagai pemetaan dan perbaikan mutu pendidikan secara nasional.

Asesesmen kompetensi ini nantinya untuk mengukur kemampuan bernalar siswa dalam memecahkan permasalahan-permasalahan kompleks dalam beragam konteks, baik personal maupun profesional. Bentuknya seperti apa? Hal ini masih dikaji oleh Kemendikbud, namun yang dicontohkan adalah kompetensi bernalar tentang teks (literasi) dan angka (numerasi).

Literasi dan Numerasi dianggap sebagai sebuah kompetensi mendasar sehingga dijadikan sebagai acuan. Perlu ditekankan bahwa ini bukan berarti berfokus pada bahasa dan matematika saja, karena kedua kompetensi itu adalah kompetensi berpikir dasar. Kedua kompetensi ini malah seharusnya dikembangkan melalui berbagai mata pelajaran, tidak hanya matematika dan bahasa saja.

Asesmen ini akan dilakukan di pertengahan jenjang sekolah, SD saat kelas 4, SMP di Kelas 8, dan SMA di kelas 11. Pemilihan tengah jenjang ini sesuai dengan tujuan utama yaitu identfikasi kebutuhan belajar masing-masing siswa dan bisa menjadi sebuah deteksi dini bagi beragam permasalahan mutu pendidikan nasional. Karena dilakukan ditengah jenjang, perbaikan pada aspek-aspek yang diperlukan baik pada siswa ataupu proses pembelajaran, bisa dilakukan. Asesmen dengan ini tidak berarti ada beban tambahan baik bagi guru maupun siswa, karena memang yang dilakukan asesmen bukanlah konten tambahan.

3. Penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Semangat utama penyederhanaan RPP adalah mengurangi beban administratif guru agar bisa lebih fokus dalam mempersiapkan dan mengevaluasi proses pembelajaran itu sendiri. Untuk hal ini, Mendikbud memberi tiga prinsip acuan yaitu RPP harus efisien, efektif, dan berorentasi pada murid. Apa maksudnya?

Efisien, berarti penulisan RPP dilakukan dengan tepat dan tidak menghabiskan banyak waktu dan tenaga. Efektif, berarti penulisan RPP dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Berorientasi pada murid, artinya penulisan RPP dilakukan dengan mempertimbangkan kesiapan, ketertarikan, dan kebutuhan belajar murid di kelas. Selain itu, RPP juga harus memuat tiga komponen, yaitu tujuan pembelajaran, langkah pembelajaran, dan penilaian pembelajaran.

Adanya ketiga prinsip dan komponen tersebut berarti, tidak ada pembatasan bagi guru dalam membuat RPP. Guru sangat diperbolehkan membuat RPP sendiri selama tetap sesuai dengan ketiga prinsip di atas. Jika guru tetap ingin membuat RPP berdasarkan format yang sudah ada, juga diperbolehkan, selama format tersebut sudah sesuai dengan tiga prinsip tersebut.

RPP 1 halaman?

4. Kebijakan Zonasi Tahun Ajaran 2020/2021

Untuk hal ini initinya, daerah kini diberikan kebebasan lebih dalam menentukan zonasi sekolah dan prosentase minimal penerimaan siswa. Peraturan baru ini sangat teknis, jadi langsung dicek di Permendikbud No. 44 Tahun 2019 saja ya 🙂

Kini, bagaimana kita insan pendidikan di Indonesia menanggapi arah baru pendidikan Indonesia? Apakah Merdeka belajar bisa menjadi solusi nyata dari kurangnya kualitas pendidikan kita secara umum?

]]>
https://millennia.co.id/2020/01/15/mempelajari-lebih-lanjut-konsep-merdeka-belajar-dan-dampaknya-bagi-siswa-guru-dan-sekolah/feed/ 0
Masihkah Sekolah Diperlukan? https://millennia.co.id/2020/01/13/masihkah-sekolah-diperlukan/ https://millennia.co.id/2020/01/13/masihkah-sekolah-diperlukan/#respond Mon, 13 Jan 2020 04:04:22 +0000 https://millennia.co.id/?p=5003 Read More]]> Penunjukan Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dapat dilihat sebagai babak baru dalam dunia pendidikan nasional. Presiden Jokowi seakan ingin menunjukkan komitmennya terhadap visi “SDM Unggul, Indonesia Maju” di masa depan.

Pidato Menteri Pendidikan dalam hari guru yang lalu menyiratkan banyak yang akan berubah dalam dunia pendidikan Indonesia. Latar belakang beliau yang tidak memiliki pengalaman teknis di bidang pendidikan menjadikan ini sebagai diskusi yang menarik. Akankah sistem pendidikan kita mengadopsi era 4.0? Seberapa relevankah model sekolah saat ini? Apakah di masa depan, sekolah masih diperlukan?

Tantangan Kebutuhan SDM Masa Depan

Pembicaraan tentang SDM masa depan saat ini, hampir selalu dikaitkan dengan teknologi. Era 4.0 memang digerakkan oleh kemajuan teknologi. Sebaliknya, kemajuan teknologi meningkatkan pula interkoneksi dan otomatisasi. Oleh karena itu, penguasaan teknologi menjadi satu syarat penting SDM unggul di masa depan.

Namun, perlu disadari bahwa teknologi hanyalah sarana. Ia hanyalah alat. Penentu berguna atau tidaknya alat tersebut adalah orang yang menggunakan teknologi tersebut. The man behind the gun. Dan alat tersebut hanya akan bermanfaat secara optimal, jika digunakan berdasarkan pemikiran yang kritis.

Critical thinking bukan hanya berbicara soal ketidaksetujuan terhadap sesuatu. Ia meliputi kemampuan mengamati, membaca data, melakukan analisa, dan menentukan sebab-akibat.. Seluruh proses berpikir kritis tersebut akan menjadi optimal jika didukung dengan penguasaan teknologi.

Kemampuan berpikir kritis akan membawa kepada identifikasi masalah yang tepat. Untuk masuk ke dalam desain penyelesaian yang praktis dan tepat guna, dibutuhkan kemampuan berpikir yang kreatif dan inovatif (creative and innovative thingking).

Kedua kemampuan tersebut, berpikir kritis dan berpikir kreatif, bersifat saling melengkapi. Keduanya menjadi kemampuan dasar yang harus  dikuasai oleh SDM unggul di masa depan.

Sebuah desain atau rencana penyelesaian suatu masalah tidak akan dapat dikerjakan sendirian. Apalagi jika hal ini merupakan masalah publik. Dibutuhkan kerjasama berbagai pihak dalam menyelesaiakan suatu proyek  atau masalah. Kemampuan dalam berkolaborasi menjadi poin penting selanjutnya.

Terakhir, semua kemampuan tersebut akan menjadi kontra-produktif, bahkan bisa destruktif, jika tidak diarahkan oleh nilai-nilai yang baik. Nilai ini bahkan bisa disebut asas, dasar, atau  landasan bagi semua kemampuan yang lain.

Secara garis besar, SDM di masa depan akan ditantang untuk memiliki:

  1. Penguasaan teknologi
  2. Kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan inovatif
  3. Kemampuan berkolaborasi atau bekerjasama
  4. Karakter dan nilai-nilai yang baik.

Visi Proses Pembelajaran Masa Depan

Visi SDM unggul di masa depan perlu dijabarkan dalam misi proses pembelajaran yang tepat. Adalahh tidak mungkin menuju ke suatu tempat, jika jalan yang diambil justru berbelok atau bahkan berlawanan.

Gambaran proses pembelajaran yang ideal sebenarnya telah disampaikan oleh Menteri Pendidikan Nadiem Makarim dalam pidatonya. Walaupun hanya sebagian kecil saja. Sedikitnya ada 5 hal yang menjadi concern beliau dilihat dari kalimatnya.[1]

1. Ajak kelas berdiskusi, bukan hanya mendengar

Dalam kelas masa depan, pelajar akan aktif menyampaikan ide dan gagasan, mempertanyakan, memberikan jawaban, menyanggah, dan mengambil kesimpulan.

2. Berikan kesempatan kepada murid untuk mengajar di kelas

Kelas masa depan memberikan kesempatan kepada pelajar untuk mengomunikasikan pemahaman, ide, dan gagasannya. Diskusi, praktik, dan mengajarkan merupakan ciri pembelajaran aktif dengan tingkat retensi hasil  belajar mencapai 90%.[2]

3.Cetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas

Kelas masa depan tidak dibatasi oleh sekat ruangan. Pembelajaran tak boleh menjadi sesuatu yang teoritis dan mengawang-awang. Ia harus berdampak dan memiliki manfaat praktis untuk menyelesaikan masalah di lapangan.

4.Temukan suatu bakat dalam diri murid yang kurang percaya diri

Kelas masa depan mendorong pelajar untuk berani mengambil langkah yang bertangungjawab atas masa depannya. Pelajar dapat memilih bidang yang ia minati, dan mengembangkan dirinya di sana. Guru akan memberikan dorongan, semangat, dan bantuan untuk pelajar tersebut berkembang.

5.Tawarkan bantuan kepada guru yang sedang mengalami kesulitan

Upgrading guru masa depan akan terus berjalan, baik secara mandiri atau dengan bantuan. Saling tukar ide dan gagasan dapat dilakukan walaupun terpisah jarak dan waktu. Penerapan Internet of Things (IoT) dalam dunia pendidikan akan mempermudah hal tersebut terwujud.

Sekolah, Antara Realita dan Harapan

Kata kunci dalam visi  pembelajaran masa depan adalah student centered learning dan Internet of Things. Sedangkan garda terdepan yang akan mewujudkan visi tersebut adalah sekolah, sebagai lembagai pendidikan formal. Sekolah masa depan diharapkan telah menerapkan 2 hal tersebut dalam proses pembelajarannya.

Sumber belajar tak lagi hanya berasal dari guru dan sekolah. Tugas guru menjadi lebih dekat dan akrab. Relasi guru-murid tak lagi berbentuk vertikal, tapi menjadi horizontal. Guru akan menjadi partner, fasilitator, dan motivator yang mendorong pelajar menyelesaikan proyeknya.

Internet menjadi sumber belajar yang tak terbatas. Teknologi ini juga menjadi basis utama dalam perencanaan, proses pembelajaran, hingga evaluasi. Administrasi sekolah berjalan secara otomatis dan terkoneksi langsung dengan pihak-pihak terkait.

Orang tua dapat mengecek secara realtime keberadaan dan aktivitas anaknya. Guru dapat mengecek keadaan pelajar dan progress serta pencapaian proyek. Pelajar dapat melakukan riset dan memberikan umpan balik kepada sesama pelajar, guru, sekolah, hingga institusi publik.

Permasalahan utama bidang pendidikan di Indonesia adalah tentang pemerataan. Sekolah-sekolah yang terletak di  kota besar dan memiliki sumber daya yang baik bisa saja menerapkan sistem tersebut. Namun, bagaimana dengan sekolah yang terpencil? Bagaimana dengan sekolah yang mayoritas muridnya berasal dari keluarga miskin?

Solusi Sistem Pendidikan Masa Depan

Solusi dari masalah tersebut kembali ke kunci awal, Internet of Things. Sekolah tak lagi boleh membatasi diri dalam sekat-sekat ruangan. Teknologi harus dimanfaatkan dalam semua tahap pembelajaran maupun administrasi sekolah.

Dengan demikian, pemerintah tidak perlu membangun gedung sekolah baru. Pemerintah hanya perlu membangun sarana konektivitas dan sistem sekolahnya. Data-data disimpan dalam cloud storage dan dapat diakses secara realtime dari mana saja.

Guru dan pelajar tak lagi harus bertatap muka setiap hari. Proyek dapat disusun setiap bulan dengan waktu konsultasi tatap muka setiap minggu. Monitoring dapat dilakukan setiap dibutuhkan melalui jaringan. Absensi bukan lagi penentu kelulusan, melainkan keberhasilan proyek yang dilakukan.

Arah proyek pendidikan dasar disusun agar terkait dengan diri dan lingkungan. Sedangkan pada pendidikan menengah bawah ditekankan pada lingkungan sosial. Proyek di sekolah menengah atas seharusnya telah mulai menyelesaikan masalah-masalah nyata dalam keseharian.

Setiap proyek harus dilakukan dalam kelompok dan sebisa mungkin melibatkan unsur lain di luar sekolah. Untuk mengasah nilai dan karakter pelajar, secara berkala dapat diberikan proyek bakti sosial.

Di luar waktu tersebut, pelajar dapat mengembangkan dirinya dalam bidang yang ia sukai. Sekolah juga dapat membuka modul-modul khusus yang bebas diambil sesuai kebutuhan. Modul juga dapat dibatasi atau diberikan prasyarat tertentu, tergantung kondisi pelajar.

Solusi sistem pendidikan masa depan tampak radikal dan membutuhkan banyak perubahan. Pertanyaannya adalah, maukah kita?


[1] Pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada Upacara Bendera Peringatan Hari Guru Nasional tahun 2019. Dapat diunduh di alamat http://kemdikbud.go.id/main/files/download/e1d9937e0378234

[2] Nurdinah Hanifah, J. Julia, Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Dasar: Membedah Anatomi Kurikulum 2013 untuk Membangun Masa Depan Pendidikan yang Lebih Baik, (Sumedang: UPI Sumedang Press, 2014), hlm. 136.

]]>
https://millennia.co.id/2020/01/13/masihkah-sekolah-diperlukan/feed/ 0
Kolaborasi Netflix – Kemendikbud, Jadi Apa? https://millennia.co.id/2020/01/10/kolaborasi-netflix-kemendikbud-jadi-apa/ https://millennia.co.id/2020/01/10/kolaborasi-netflix-kemendikbud-jadi-apa/#respond Fri, 10 Jan 2020 04:35:56 +0000 https://millennia.co.id/?p=5000 Read More]]> Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan Netflx untuk pengembangan industri perfilman di Indonesia. Sebuah langkah yang menarik, apalagi mengingat Netflix masih menjadi yang terdepan sebagai platform hiburan digital yang kini juga telah menjadi pembuat konten yang telah diperhitungkan kualitasnya.

Kerjasama kedua pihak ini mencakupi beberapa hal. Pengembangan penulis film menjadi yang utama, di mana akan ada 15 orang yang akan dikirim ke Hollywood untuk memperoleh pelatihan penulisan film langsung dari para praktisi kelas dunia.

Mas Menteri Nadiem ini mengambil posisi yang menarik, bagi industri film, pekerja film, dan juga program pendidikan perfilman di Indonesia. Kerjasama dengan Netflix artinya adalah sebuah peluang besar bagi film dan serial televisi Indonesia bisa meningkatkan kualitasnya dan memperoleh ketersebaran yang maksimal.

Sebagai program inisiasi, nantinya diharapkan ada proses perubahan ke lini lain terkait industri film. Sumber daya manusia terutamanya, menjadi perhatian banyak sutradara film ternama di Indonesia, yang banyak mengeluhkan bahwa dari segi ide, Indonesia sangat tidak kalah dengan negara lain, hanya saja sumber daya manusia yang dimiliki menjadi kendala untuk merealisasikan ide cerita dengna maksimal.

Kerjasama dengan Netflix bisa membuka peluang kerjasama dengan tim produksi dari Hollywood, yang diharapkan bisa menjadi sebuah program knolewledge transfer. Selain itu, industri yang baik nantinya akan menghasilkan institusi pendidikan perfilman baru lainnya. Kekurangan kualitas SDM salah satunya karena kurangnya sekolah film di Indonesia.

Perhatian selanjutnya adalah sinergi bisnis itu sendiri. Kemendikbud mengklaim bahwa tidak ikut campur dalam urusan Telkom dan Telkomsel yang memblokir akses Netflix karena itu urusan bisnis. Menurut saya, Kemendikbud harus berperan dalam hal ini. Bagaimana kita bisa berencana mengembangkan industri film dengan menggandeng Netflix, sementara dua penyedia jasa internet terbesar di Indonesia, dan dimiliki oleh negara, memblokir akses ke Netflix.

Sudah seharusnya Mas Nadiem ngobrol-ngobrol dengan Pak Menkominfo. Masa ya nanti kita sudah punya film dan serial tv yang bagus, tapi tidak bisa menontonnya karena akses Netflix di blok?

]]>
https://millennia.co.id/2020/01/10/kolaborasi-netflix-kemendikbud-jadi-apa/feed/ 0
Kurikulum Masa Depan Berbasis Pemecahan Masalah https://millennia.co.id/2019/12/31/kurikulum-masa-depan-berbasis-pemecahan-masalah/ https://millennia.co.id/2019/12/31/kurikulum-masa-depan-berbasis-pemecahan-masalah/#respond Tue, 31 Dec 2019 04:33:56 +0000 https://millennia.co.id/?p=4995 Read More]]> Apakah kita menyadari bahwa bertanya merupakan dorongan alami anak-anak?.  Penelitian di Inggris menyebutkan bahwa anak perempuan berusia 4 tahun menanyakan rata-rata 392 pertanyaan per hari.

Mengapa anak-anak suka sekali bertanya?.  Karena begitulah cara mereka memuaskan rasa ingin tahu. Pertanyaan seperti “mengapa langit berwarna biru?”.  Atau yang paling merepotkan orang tua adalah “darimana bayi lahir?”. Semuanya adalah pertanyaan tulus berlandaskan keingintahuan.

Pertanyaan seperti yang ditanyakan anak-anak sama sifatnya dengan pertanyaan yang diajukan Isaac Newton saat bertanya “Mengapa apel jatuh ke permukaan tanah?”. Pertanyaan inilah yang akhirnya membuat seluruh dunia tahu adanya gravitasi bumi.  Bayangkan kalau Newton tidak pernah mempertanyakan apel yang jatuh dari pohon, semua inovasi yang memanfaatkan gaya gravitasi tidak akan pernah terwujud. 

Pertanyaan adalah kunci untuk membuka pintu-pintu selanjutnya pada ilmu pengetahuan.  Melalui pertanyaanlah aksi nyata akan terjadi. Ilmu pengetahuan dan aksi seharusnya menjadi tujuan utama dari setiap pembelajaran yang kita lakukan. Namun yang menjadi pertanyaan adalah :

Apakah kurikulum yang kita gunakan sudah memberi ruang bagi siswa untuk bertanya sebanyak-banyaknya?.

Apakah kurikulum yang kita gunakan sudah membuka pintu bagi ilmu pengetahuan baru dan mendorong aksi?.

Sebagai pendidik pada Sekolah Dasar, cara terbaik mendorong siswa bertanya, salah satunya dengan  dengan mengasah kemampuan pendidik untuk bertanya. Sebagai orang dewasa, kita suka menganggap remeh bahwa bertanya merupakan hal mudah.  Namun kalau kita lihat fakta di lapangan, berapa banyak pendidik yang bisa mengajukan pertanyaan berkualitas untuk merangsang proses berpikir dan investigasi para siswa.

Melatih siswa mengajukan pertanyaan tidak sesedrhana menanyakan “sampai di sini, apakah ada yang mau bertanya?” di akhir pelajaran.  Tapi, rencana pembelajaran bisa menyertakan video, gambar, atau cerita yang akan digunakan sebagai objek pertanyaan siswa.

Siswa bisa menggunakan template pertanyaan yang diberikan guru seperti “Apa hubungan antara ………………… dengan…………………..?” , “Bagaimana pengaruh……………. pada…………..,” atau “Apa yang menyebabkan terjadinya…………………..?” Lalu, siswa mengisi titik-titik dengan variable-variabel yang mereka dapatkan dari media cerita, video, atau gambar.

Mengajukan pertanyaan yang tepat dapat mendorong aksi nyata pemecahan masalah. Kamera Polaroid tercipta karena anak dari Edwin Land, penemu kamera Polaroid, bertanya kepada ayahnya mengapa ia harus menunggu untuk bisa melihat foto liburan mereka. Pertanyaan tersebut memberikannya ide untuk mengembangkan sebuah inovasi kamera instan seperti kamera Polaroid yang kita kenal sekarang.

Untuk melakukan aksi alias menjadi problem solver, siswa juga harus belajar mengenal alur proses desain. Tahapan Proses Desain yang perlu dilakukan siswa meliputi : Identifikasi masalah, brainstorming, mendesain pemecahan masalah, membuat pemecahan masalah, tes dan evaluasi, mendesain ulang, membagikan solusi, kemudian refleksi.

Masalah diidentifikasi sebagai jarak antara ekspektasi dan kenyataan yang ada.  Pemikiran desain yang baik seharusnya berangkat dari empati terhadap permasalahan di sekitar.

Rancangan kurikulum dengan tujuan akhir menciptakan seorang problem solver idealnya memberi ruang bagi guru dan siswa untuk mengasah kepekaan melihat masalah dimulai dari lingkup kecil seperti kelas, lingkungan sekolah, lingkungan rumah, sampai ke ruang lingkup besar seperti kota tempat siswa tinggal.

Dengan akses informasi yang sudah tak terbatas, siswa Sekolah Dasar dapat dengan mudah membandingkan keadaaan di sekitarnya dengan kondisi ideal dan akhirnya menimbulkan pertanyaan “Apa yang bisa saya lakukan untuk memperkecil jarak antara ekspektasi dan kenyataan”.

Dalam kurikulum berbasis pemecahan masalah batas-batas antara disiplin ilmu juga terjembatani. Siswa didorong untuk membangun desain pemecahan dengan mengintegrasikan beberapa displin ilmu. Contohnya, matematika dan sains pesawat sederhana dapat dipakai untuk mengukur dan menggerakkan alat pembersih sepatu sebagai pemecahan masalah ruang kelas yang kotor di musim penghujan.

Seluruh proses tidak statis melainkan dinamis. Mengikuti alur pemikiran desain, siswa akan belajar berhadapan dengan kegagalan pada tahap tes dan evaluasi dari proses desain. Pada tahap ini, teori-teori yang mereka pelajari menjadi bentuk nyata bukan hanya fakta. Adakalanya proses pengukuran yang mereka pelajari di pelajaran matematika tidak bekerja dan mereka lagi-lagi dituntut untuk menjadi pemecah masalah dengan berbekal keterampilan berpikir.

Sebagai kesimpulan, kurikulum berbasis pemecahan masalah adalah kurikulum yang lentur dengan ruang di sana sini untuk memungkinkan eksplorasi. Rencana pembelajaran harian melibatkan pertanyaan-pertanyaan yang harus diajukan guru untuk memancing minat investigasi lebih jauh. Di ruang kelas tidak ada pertanyaan yang terlalu remeh untuk  dicari bersama jawabannya . Di sinilah cara alami seorang anak manusia belajar difasilitasi.

Mendesain pemecahan masalah juga merupakan proses pembelajaran yang merangsang banyak keterampilan siswa. Beberapa diantaranya adalah keterampilan menganalisis dan memecahkan masalah. Kurikulum berbasis pemecahan masalah memungkinkan siswa meleburkan disiplin-disiplin ilmu menjadi sebuah solusi. Sebuah kondisi yang lebih dekat dengan dunia nyata jika dibandingkan dengan kurikulum konvensional yang mengotak-ngotakkan materi pelajaran.

]]>
https://millennia.co.id/2019/12/31/kurikulum-masa-depan-berbasis-pemecahan-masalah/feed/ 0
Kontribusi Tulisan https://millennia.co.id/2019/12/02/kontribusi-tulisan/ https://millennia.co.id/2019/12/02/kontribusi-tulisan/#respond Mon, 02 Dec 2019 12:38:13 +0000 https://millennia.co.id/?p=4949 Read More]]> Kami membuka bagi siapapun yang ingin berbagi tulisan dengan blog Millennia. Adapun ketentuan tulisan yang kami terima adalah:

  1. Berupa essai atau opini tentang topik tertentu
  2. Topik seputar pendidikan, sekolah, dan keguruan.
  3. Panjang 700-1000 kata.
  4. Sangat dianjurkan mencantumkan semua sumber yang dikutip langsung jika memungkinkan.
  5. Belum pernah dimuat di media lain.

Kirim tulisan anda ke info@millennia21.id

Tulisan yang memenuhi kriteria kami akan dimuat di blog, dan tiga tulisan terbaik akan dimuan dalam newsletter bulanan. Tulisan yang termuat di newsletter akan memperoleh honorarium.

Tulisan yang diterima tetap menjadi milik penulis, dan berhak untuk disebarluaskan. Jika lebih dari 14 hari belum ada balasan dari Tim Millennia terkait tulisan yang dikirim, maka penulis berhak mempublikasikan tulisannya di tempat lain.

Selamat berkarya!

]]>
https://millennia.co.id/2019/12/02/kontribusi-tulisan/feed/ 0
Sokola Rimba : Perjalanan Guru Inspiratif https://millennia.co.id/2019/11/19/sokola-rimba-sebuah-film-inspiratif-tentang-perjuangan-seorang-guru/ https://millennia.co.id/2019/11/19/sokola-rimba-sebuah-film-inspiratif-tentang-perjuangan-seorang-guru/#respond Tue, 19 Nov 2019 04:12:21 +0000 https://millennia.co.id/?p=4944 Read More]]> Digarap dengan apik oleh duet Mira Lesmana dan Riri Riza, film Sokola Rimba yang dibintangi oleh Prisia Nasution ini bisa dibilang cukup berhasil membuka mata masyarakat tentang suramnya dunia pendidikan di pelosok Indonesia.

Sokola Rimba merupakan sebuah film yang bercerita tentang perjuangan Saur Maurlina Manurung, yang kemudian dikenal sebagai Butet Manurung, untuk memberikan pendidikan kepada Suku Anak Dalam di Jambi. Diangkat dari buku berjudul sama, Sokola Rimba awalnya adalah catatan harian yang ditulis oleh Butet untuk mengisi waktunya selama tinggal dan mengajar di sana.

Butet yang pada masa kuliahnya aktif dalam kegiatan pecinta alam mengawali karier sebagai pemandu wisata di taman nasional. Namun ia selalu merasa ada yang kurang dalam hidupnya, hingga ia melihat sebuah lowongan di Koran : Dicari Seorang Fasilitator Pendidikan Alternatif Bagi Suku Asli Orang Rimba, Jambi.

Suku Anak Dalam, atau biasa juga disebut sebagai Orang Rimba, adalah suku yang hidup di Taman Nasional Dua Belas (TNDB) – Jambi. Mereka memegang teguh adat mereka dengan menutup diri terhadap dunia luar, hidup secara nomaden, serta menggantungkan hidupnya dengan berburu dan meramu.

Orang Rimba yang tak mengenal huruf ini pun menjadi sasaran empuk pembodohan. Banyak orang kota, yang mereka sebut sebagai orang terang, menyodorkan surat yang disebut sebagai piagam penghargaan dari kecamatan. Tumenggung, sebutan bagi ketua adat, pun membubuhkan cap jempolnya tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Di kemudian hari baru diketahui bahwa surat-surat tersebut ternyata berisi persetujuan pengeksploitasian tanah adat Orang Rimba, dengan bayaran yang jauh dari kata wajar : gula, kopi, rokok, dan berbagai barang yang nilainya sama sekali tidak sebanding. Tanah ini banyak dibabat untuk keperluan perkebunan kelapa sawit. Mereka pun terpaksa terusir, masuk semakin jauh ke dalam hutan.

—–

Film diawali ketika Butet yang telah tiga tahun mengajar Anak Rimba terserang malaria. Ia pingsan di tepian sungai, jauh dalam belantara. Bantuan datang dari seorang anak yang tidak ia kenal. Ia hanya tahu bahwa anak tersebut datang dari hilir Sungai Makekal, yang berarti ia telah menempuh perjalanan selama tujuh jam sampai ke tempat Butet mengajar.

Dalam usahanya untuk mencari tahu, Butet pun memperluas area mengajarnya hingga ke hilir. Bersama dua muridnya, Beindah dan Nengkabau, ia menempuh perjalanan selama beberapa hari hingga bisa bertemu dengan anak misterius tersebut, yang ternyata bernama Nyungsang Bungo.

Baru beberapa hari mengajar di hilir, rombongan Bungo mulai menunjukkan penolakan mereka. Bagi mereka, pendidikan adalah hal yang tabu dan bertentangan dengan adat istiadat. Sokolah, sebutan sekolah bagi Orang Rimba, dipercaya akan mendatangkan musibah, kutukan, bahkan kematian. Butet pun terpaksa meninggalkan tempat tersebut.

Bungo yang masih remaja tidak bisa menerima begitu saja pengusiran gurunya. Muncul satu dialog emosional, “Ke mano Bu Guru Butet pegi? Akeh ndok bolajor pado Bu Guru!”. Ia pun kemudian meninggalkan rombongannya, diam-diam menyusuri hutan demi ikut sokola.

Butet sangat menyadari bahwa Bungo tidak bisa memilih antara kecintaannya terhadap sokola yang mulai tumbuh, dan kesadaran dirinya yang terlahir untuk mencintai kaum, adat, serta tanah pusakanya. Tiap kali melihat Bungo mengamati sokola dari kejauhan, Butet hanya memanggil lirih, “Bungo, ayo bolajor”.

Tak lama Bungo dijemput paksa oleh rombongannya. Tumenggung meninggal, dan mereka percaya bahwa ini adalah kutukan karena kedatangan Butet dan aktivitas yang ia lakukan.

Dalam kepercayaan Orang Rimba, mereka harus meninggalkan tempat tinggal mereka selama ini apabila ada salah satu kerabat yang meninggal karena tempat tersebut diyakini tidak baik untuk ditinggali, dan akan membawa petaka bagi siapa saja yang masih berdiam di sana. Bungo dan rombongan pun meninggalkan tempat tersebut.

Di akhir film, Butet dan rekan-rekannya melihat sesuatu yang mengejutkan. Bungo berdiri mewakili rombongannya menghadapi orang terang yang kembali datang. Bungo bisa membaca dan dan mengerti akan isi surat perjanjian yang ditawarkan. Ia bahkan mampu menolak poin-poin yang dianggap tidak sesuai dengan aturan adat mereka.

—–

Durasi film ini tentu saja tidak mampu menggambarkan 348 halaman buku Sokola Rimba secara keseluruhan. Namun setidaknya, Riri dan Mira berhasil membawa penonton untuk melihat kehidupan Orang Rimba dan perjuangan Butet bersama mereka.

Riri dan Mira dalam beberapa wawancaranya menjelaskan bahwa mereka banyak belajar dari Orang Rimba sepanjang proses pembuatan film. Bagaimana tidak, perjalanan yang harus ditempuh untuk mencapai hunian mereka sendiri memakan waktu setidaknya tujuh jam dengan berjalan kaki. Maraknya pembalakan hutan dan juga munculnya perkebunan-perkebunan kelapa sawit semakin mempersempit ruang gerak mereka. Mereka yang hidup dengan berburu dan mengandalkan hasil hutan seperti madu dan daun-daunan, harus berjuang lebih keras untuk mendapatkannya.

Meski masih cenderung menutup diri, kehadiran Butet berhasil membawa perubahan bagi mereka. Murid-murid pertama Butet kemudian menjadi kader-kader Sokola Rimba yang meneruskan ilmunya bagi Anak Rimba lainnya. Bahkan belakangan, ada Anak Rimba yang berhasil menyelesaikan kuliahnya di Jambi sebagai guru. Ia kembali untuk mengajar di TNDB.

Melihat film ini, saya tersadar betapa suramnya dunia pendidikan kita di beberapa tempat. Ketika wajib belajar menjadi sesuatu yang sering dikumandangkan di Pulau Jawa, di sudut sana masih ada yang menolak pendidikan karena diyakini akan mendatangkan keburukan.

Beruntunglah Anak Rimba karena Butet tidak menyerah begitu saja. Dengan kreativitasnya, ia bahkan mampu menyikapi segala hambatan yang ada dengan sangat baik.

Ketika Anak Rimba tidak mengenal kursi dan meja, Butet mengajar di segala tempat. Di sungai, di hutan, di pohon, dimanapun. Ketika mereka terpaksa berpindah-pindah tempat karena kondisi dan keyakinan, Butet terus mengikuti. Pun ketika ia terserang penyakit malaria, ia masih berusaha menjalankan tugasnya.

Ia menyesuaikan metode pengajarannya dengan hal-hal yang biasa dihadapi Anak Rimba setiap harinya. Selain membaca, menulis, dan berhitung, ia juga membawa informasi dan pengetahuan tentang dunia luar, mengajarkan beberapa keterampilan, serta mengajarkan bagaimana berkomunikasi dan berorganisasi. Ia berharap bahwa ke depannya Orang Rimba akan siap ketika harus berhadapan dengan dunia luar, dan tentu saja agar mereka tidak lagi mudah dieksploitasi.

Sokola Rimba tidak berhenti di TNDB saja. Di bawah bendera Yayasan Sokola, Butet mengembangkan pendidikan alternatif ini hingga ke Flores, Halmahera, Bulukumba (Sulawesi), Pulau Besar dan Gunung Egon, Aceh, Yogyakarta, Makasar, Klaten, dan Bantul. Perjuangan dan kontribusi Butet dalam dunia pendidikan telah diapresiasi oleh banyak pihak, terutama justru dari luar negeri. Pada tahun 2004, majalah TIME Asia menyebutnya sebagai Heroes of Asia. Selain itu ia juga memperoleh penghargaan Young Global Reader dari Forum Ekonomi Dunia, Social Entrepeneur of The Year dari Ernst and Young, serta Ramon Magsaysay Award yang seringkali disebut-sebut sebagai Nobelnya Asia.

]]>
https://millennia.co.id/2019/11/19/sokola-rimba-sebuah-film-inspiratif-tentang-perjuangan-seorang-guru/feed/ 0
Menilik Masa Depan Pendidikan Indonesia Dibawah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim https://millennia.co.id/2019/11/13/menilik-masa-depan-pendidikan-indonesia-dibawah-menteri-pendidikan-dan-kebudayaan-nadiem-makarim/ https://millennia.co.id/2019/11/13/menilik-masa-depan-pendidikan-indonesia-dibawah-menteri-pendidikan-dan-kebudayaan-nadiem-makarim/#respond Wed, 13 Nov 2019 10:05:07 +0000 https://millennia.co.id/?p=4935 Read More]]> Indonesia telah memiliki Menteri Pendidikan dan Kebudayaan baru bernama Nadiem Makarim. Pria yang sebelumnya menjabat CEO Gojek ini sendiri memang telah resmi menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan setelah dilantik oleh Presiden Jokowi pada Rabu, 23 Oktober 2019 di Istana Negara. Pemilihan dan penetapan Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kabinet Indonesia Maju ini langsung mendapat berbagai respon dari publik. Bahkan dari sekian menteri yang ada, nama Nadiem Makarim menjadi salah satu sosok menteri yang paling mendapat sorotan paling besar dari publik.

Pro-Kontra Penujukan Nadiem Makarim

Tentu saja dalam perspektif publik, ada pihak yang pro dan kontra terkait penetapan Nadiem sebagai Mendikbud. Pada pihak yang kontra menyatakan bahwa penunjukan Nadiem Makarim tidak tepat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Alasannya, mereka menganggap Nadiem Makarim tidak punya kompetensi dan pengalaman dibidang pendidikan. Di sisi lain dari publik yang pro menyatakan bahwa penunjukan Nadiem sudah tepat karena dianggap mampu melakukan banyak terobosan untuk pendidikan Indonesia yang sudah tertinggal dari negara-negara lain.

Salah satu tokoh yang merasa Nadiem cocok mengisi pos Menteri Pendidikan dan Kebudayaan adalah Effendi Ghazali. Pakar komunikasi politik ini menyatakan bahwa Nadiem sebenarnya punya pengalaman di dunia pendidikan. Menurut Effendi di acara Indonesia Lawyer Club (ILC) menyatakan bahwa pendidikan bukan hanya soal bagaimana mengejar dunia digital kreatif, tapi pendidikan juga tentang revolusi mental, kewiraan, budi pekerti, dan lain-lain. Nah dari sini Nadiem sebenarnya sudah mampu membuktikan kapasitasnya dibidang pendidikan dari keberhasilannya mendidik mitra dan driver Gojek untuk mencapai kompetensi yang baik.

Ditunggu Sepak Terjangnya

Terlepas dari apapun perdebatan di ruang publik, satu hal yang pasti bahwa Nadiem menjadi salah satu menteri yang ditunggu sepak terjangnya. Nadiem yang masih seminggu menjabat posisi menteri sendiri mengaku masih belum menentukan 100 hari program kerjanya. Pria kelahiran 4 Juli 1984 ini menyatakan masih berfokus untuk mendengarkan para pakar pendidikan. Dalam pidato yang disampaikan saat serah terima jabatan di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem yang mengaku tidak memiliki latar belakang pendidikan, menyatakan dirinya harus menjadi murid terlebih dulu untuk belajar banyak dari para pakar mengenai dunia pendidikan Indonesia. Meski belum menentukan program kerja, Nadiem menyatakan bahwa dirinya adalah murid pintar dan cepat belajar untuk nelajar dan segera mengeksekusi program kerjanya.

Semangat Nadiem Makarim

Dalam kesempatan yang sama saat serah terima jabatan, Nadiem menyatakan bahwa drinya memutuskan untuk menerima amanah menjadi menteri ini karena sebuah alasan yakni masa depan dan generasi mendatang. Saat melihat bahwa pendidikan merupakan solusi jangka panjang untuk membuat masa depan bangsa yang cerah, Nadiem pun kemudian menerima tawaran Preside Jokowi untuk menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Meski sebenarnya Nadiem paham bahwa jabatannya ini berat karena banyaknya masalah di dunia pendidikan Indonesia, tapi dirinya merasa bersemangat untuk menjalaninya.

Menyesuaikan Kebutuhan Pendidikan dengan Kebutuhan Lingkungan

Dalam sesi lainnya, Nadiem menyatakan bahwa dirinya memiliki rencana untuk menghadirkan pendidikan yang sesuai dengan zamannya. Dalam perkembangan dan pertumbuhan zaman yang selalu berubah-ubah memang membuat bidang apapun, termasuk pendidikan, harus terus mampu menyesuaikan diri. Dari sinilah Nadiem memiliki rencana untuk menyambungkan bidang pendidikan dengan apa yang dibutuhkan oleh lingkungan saat ini. Jika link and match antara kebutuhan pendidikan dan kebutuhan lingkungan atau dunia kerja ini sudah tercapai, maka masa depan akan bisa dihadapi dengan baik.

Mengoptimalkan Peranan Teknologi

Saat penunjukan dirinya sebagai Mendikbud, Nadiem sendiri menyatakan bahwa Presiden mengarahkan bahwa harus ada dobrakan dan inovasi dalam bidang pendidikan yang selama ini masih bersifat business as usual. Maka dari itu Nadiem berencana untuk mengoptimalkan peranan teknologi yang memang sudah perlu diadaptasi. Teknologi sendiri menurutnya akan bisa menciptakan kualitas, efisiensi dan sistem administrasi pendidikan di Indonesia. Dari sinilah Nadiem berencana akan menerapkan teknologi pada 300 ribu sekolah untuk mendukung 50 juta murid.

Gagasan Pendahulu yang Akan Tetap Dilanjutkan

Meski akan melakukan terobosan dibidang teknologi, Nadiem menyatakan bahwa dirinya akan terus melanjutkan program yang telah digagas oleh menteri sebelumnya yakni Muhadjir Effendy. Nadiem bahkan menyatakan bahwa dirinya akan meningkatkan program yang disusun sebelumnya yakni untuk menciptakan pendidikan berbasis kompetensi dan berbasis karakter.

]]>
https://millennia.co.id/2019/11/13/menilik-masa-depan-pendidikan-indonesia-dibawah-menteri-pendidikan-dan-kebudayaan-nadiem-makarim/feed/ 0
Hati-hati ‘Melabel’ Siswa https://millennia.co.id/2019/11/12/hati-hati-melebel-siswa/ https://millennia.co.id/2019/11/12/hati-hati-melebel-siswa/#respond Tue, 12 Nov 2019 09:19:07 +0000 https://millennia.co.id/?p=4926 Read More]]> Pada awalnya, labelling tersebut bertujuan untuk menyemangati siswa yang terindikasi mengalami penurunan semangat belajar. Akan tetapi, langkah yang diterapkan malah membuat siswa tertekan sehingga bermasalah dalam proses belajarnya.

Meskipun dilakukan dengan tujuan menyemangati, apakah hal tersebut diperbolehkan dalam sistem pendidikan?  Beberapa hal yang sering dilakukan guru terhadap siswa yang berujung kepada tindakan judgement adalah sebagai berikut.

  • Siswa tidak mampu menjawab pertanyaan guru, seringkali diartikan dengan daya tangkap siswa tersebut terbilang lamban.
  • Siswa tidak bersedia maju ke depan kelas, seringkali diartikan sebagai siswa yang pemalu.
  • Siswa yang cenderung bergerak dalam proses belajarnya diartikan sebagai siswa yang nakal dan tidak bisa diam.
  • Siswa yang banyak bertanya diartikan sebagai siswa yang kurang kerjaan.

Labelling hingga menghakimi (judgement) siswa memiliki berdampak negatif terhadap perkembangan kejiwaan siswa itu sendiri.. Secara sederhana, judgement dapat diartikan sebagai tindak menghakimi siswa dengan konotasi negatif. Seperti halnya yang dikatakan oleh kebanyakan guru ketika menghadapi siswa yang sulit belajar, lalu muncullah statement atas siswa tersebut dengan melabelinya sebagai siswa pemalas.

Begitu juga halnya dengan perlakuan orang tua terhadap anak. Setiap siswa berhak mendapatkan perhatian dan kasih sayang dengan tidak menghakimi mereka. Setiap kesalahan dan kondisi emosi yang berubah-ubah merupakan bagian dari proses belajar mereka.

Ternyata, menghakimi siswa dengan konotasi negatif berdampak buruk terhadap perkembangan psikisnya. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Minder

Rasa minder akan timbul ketika siswa mendapati dirinya menjadi bahan perbandingan dengan teman yang lain. Kelanjutan akan rasa minder ini membuat siswa urung untuk melakukan perbaikan.

  • Kehilangan Rasa Keberhargaan atas Diri

Hujatan yang menghantam secara bertubi-tubi membuat siswa merasa dirinya tidak berharga di mana ini berawal dari rasa minder. Perasaan demikian akan tumbuh subur menjadi mindset. Lebih lagi bagi siswa yang memiliki sensitivitas perasaan yang tinggi.

  • Trust Issue

Trust issue merupakan fenomena kehilangan kepercayaan. Setelah siswa mendapatkan penghakiman berupa konotasi negatif, hal tersebut membuat mereka perlahan tidak percaya terhadap kemampuan diri. Jika ini berkembang secara terus menerus, siswa bahkan tidak percaya terhadap lingkungan di sekitarnya.

  • Krisis Identitas

Apabila siswa mendapat hujatan “pemalas” ketika tidak mengerjakan tugas, konotasi “autis” karena sibuk dengan diri sendiri, konotasi “bodoh” ketika melakukan kesalahan dalam berproses, sebenarnya hal ini akan melekat pada diri mereka. Para siswa yang mendapat perlakuan demikian akan sulit menemukan jati diri hingga merasa nyaman ketika menjadi bagian dari orang lain. Inilah yang membuat cita-cita mereka tertunda karena apa yang mereka lakukan tidak pernah dihargai.

  • Bipolar

Bipolar adalah dampak yang akan terlihat paling jelas ketika judgement terus menerus ditujukan kepada siswa. Seketika, siswa tersebut kehilangan jati diri yang membuatnya berusaha memenuhi segala prosesnya dengan segala cara.

Di depan para guru, mereka akan berusaha untuk bersikap sempurna dengan memenuhi setiap proses belajar. Ini berlaku kebalikan ketika mereka berada di luar kendali sang guru. Bisa saja mereka berlaku anarki di luar lingkungan sekolah setelah menuruti seluruh aturan pada jam sekolah.

Guru boleh saja memiliki banyak cara untuk menyemangati murid agar bisa menjaga semangat dalam belajar. Namun, penggunaan bahasa yang tepat harus selalu diperhatikan. Tidak menutup kemungkinan bahwa siswa merekam dengan baik perkataan gurunya hingga menjadi sebuah mindset yang nantinya akan mempengaruhi kehidupannya di kemudian hari.

Pun demikian, sudah saatnya  sebagai pendidik, kita berusaha sebanyak mungkin menangkap perilaku positif para siswa. Dalam diri mereka kita sematkan predikat positif bahwa setiap anak adalah ‘Bintang’. Jika ini terjadi, maka akan tumbuh optimisme untuk mencapai kesuksesan belajar.

]]>
https://millennia.co.id/2019/11/12/hati-hati-melebel-siswa/feed/ 0
Mading Kelas Goes Online dengan Padlet https://millennia.co.id/2019/11/11/mading-kelas-goes-online-dengan-padlet/ https://millennia.co.id/2019/11/11/mading-kelas-goes-online-dengan-padlet/#respond Mon, 11 Nov 2019 04:42:12 +0000 https://millennia.co.id/?p=4910 Read More]]> Majalah dinding atau mading kelas masih menjadi media yang menarik bagi siswa berbagi informasi, karya, pengumuman, atau untuk mereka bersenang-senang dengan berbagi pesan lucu. 

Anda, yang dulu sekolah dengan akses teknologi belum semasif sekarang ini, tentu ingat betul bahwa mading kelas dan sekolah menjadi sesuatu yang sangat penting untuk menunjukkan eksistensi. Entah itu melalui pengumuman nilai ujian yang ditempel di mading, atau ketika karya lukis anda dipilih untuk ditempel di mading.

Generasi siswa saat ini mungkin sudah tidak begitu ekspresif terkait mading karena memang media yang digunakan sudah berbeda. Generasi siswa saat ini ada para digital native, manusia yang sejak kecil atau bahkan sejak lahir sudah berinteraksi langsung dengan teknologi digital. Berbeda dengan generasi gurunya yang merupakan para digital nomads, manusia yang berkenalan dengan teknologi dikemudian hari, saat menginjak masa remaja atau dewasa.

Untuk menjembatani jarak ini, kita bisa menggunakan beragam teknologi digital. Salah satu yang saya rekomendasikan adalah Padlet, mengapa?

Padlet menawarkan sebuah platform yang membantu kita dengan mudah berbagi informasi dalam satu “papan” yang sama. Salah satu bentuk yang bisa diterapkan adalah membuat Mading Online. Seperti ini cara sederhana membuatnya.

1. Masuk dan Buat Account di Padlet.com

Untuk step ini tentu tidak perlu didetilkan ya, proses registrasi seperti anda melakukan registrasi di web-web pada umumnya. Anda bisa menggunakan opsi login menggunakan akun Google untuk mempercepat proses registrasi.

2. Make a Padlet

Di halaman dashboard klik pada + Make a Padlet dengan tombol berwarna merah muda. Selanjutnya, anda diminta memilih template apa yang ingin dipakai. Pada bentuk Wall, klik select.

3. Sesuaikan Board dengan Kebutuhan

Setelah anda memilih untuk membuat Padlet dalam bentuk Wall, secara otomatis nama, tema, dan pengaturan lainnya disiapkan oleh sistem. Anda bisa mengubahnya di samping layar. Untuk bagian title hingga appearance tentu anda bisa mengubahnya sesuai selera. Yang akan kita bahas lebih detil adalah pada bagian posting dan content filtering.

Posting

  • Attribution : Untuk menampilkan nama penulis untuk setiap kiriman yang dimasukkan ke Paddlet. Untuk keperluan Mading ini, saya sangat menyarankan untuk diaktifkan agar lebih mudah mengidentifikasi siswa yang mengirimkan sesuatu di Padlet.
  • New post position : Untuk mengatur postingan baru muncul pertama atau terakhir. Untuk mading ini, lebih baik muncul pertama (first). Untuk lebih memudahkan kita melihat kiriman-kiriman terbaru.
  • Comments: Mengaktifkan kolom komentar. Saya sangat menyarankan agar ini aktif, karena komentar bisa memancing siswa untuk berinteraksi lebih lanjut di setiap postingan yang dikirmkan.
  • Reactions: Anda bisa mengatur untuk mengaktifkan Like, Vote, Star, dan Grade mirip dengan apa yang ada di media sosial. Untuk ini kembali kepada paradima yang digunakan masing-masing. Ada yang mengaggap jika like diaktifkan, maka siswa mungkin hanya akan mengirim sesuatu demi like, atau bintang, atau mungkin nilai. Saran saya, diaktfikan saja di awal ini karena kita belum tau pasti apakah siswa akan mau aktif mengirimkan postingan. Setidaknya hal ini bisa menjadi pemancing awal.

Content Filtering

  • Require Approval: Mengatur apakah setiap postingan baru harus melalui persetujuan anda sebagai pembuat Padlet ini. Saran kami ini dinonaktifkan, berilah kebebasan bagi siswa untuk mengontrol dirinya sendiri. Kebebasan dapat membuat siswa lebih ekspresif.
  • Filter Profanity: Mengganti kata-kata kotor yang tertulis di Padlet dengan emoji. Kami juga menyarankan untuk menonaktifikan fitur ini dengan alasan yang sama dengan sebelumnya. Fiter ini juga hanya bisa aktif jika menggunakan bahasa inggris dalam berinteraksi di Padlet.

Klik next yang ada di kanan atas, maka anda sudah selesai mengatur Padlet anda dan siap dibagikan ke siswa. Bagaimana membagikannya? Cukup bagikan tautan Padlet anda.

Pastikan anda meminta siswa anda untuk login terlebih dahulu sebelum mengirimkan postingan agar terlihat namanya. Anda bisa memberikan pengumuman tersebut di Padlet yang sudah anda buat.

Anda cukup melihat bagaimana siswa anda berkreasi di platform yang sudah anda siapkan. Jika anda sebagai guru mampu memamtik kreatifitas siswa dengan baik, anda akan terkagum sendiri bagaimana luar biasanya siswa anda.

Apakah anda tertarik menerapkan Padlet untuk kegiatan internal guru sekolah anda? Tunggu ditulisan selanjutnya ya.

]]>
https://millennia.co.id/2019/11/11/mading-kelas-goes-online-dengan-padlet/feed/ 0